::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ijazah Pesantren Tebuireng Zaman Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari

Rabu, 20 Februari 2019 20:00 Fragmen

Bagikan

Ijazah Pesantren Tebuireng Zaman Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari
Tidak hanya sekolah umum, pesantren juga mengeluarkan ijazah. Hal itu misalnya dilakukan Pondok Pesantren Tebuireng pada masa kepemimpinan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. 

Berikut ijazahnya:  

Menerangkan bahwa soleh bin Abdul Chamid ex murid kita berasal dari Kulon Pasar dist. Nganjuk Reg. Nganjuk
Bahwasanya ia telah tamat belajar di kelas 6 dari sekolah kita, MADRASAH SALAFIYAH SYAFI’IYAH, Pondok Tebuireng, Jombang.
Bahwasanya adat istiadat, perangai dan kelakuannya baik. Pun tidak pernah tersangkut-paut dengan urusan politik. 
Kemudian kita cs berpesan padanya akan senantiasa setia terhadap agamanya, meluaskan dan menjaganya untuk kebaikan dunia dan akhirat. 

Kemudian ijazah itu ditandatangani KH Hasyim Asy’ari, dia menyebutnya alfaqir Allah Ta’ala. Orang yang menandatangani juga adalah telah diperiksa, dan kepala pondok. Sementara stempel yang dibubuhi stempel. 

Menurut Choirul Anam, santri Kiai Hasyim mulanya hanya 28 orang pada tahun 1899. Kemudian menjadi 200 orang pada 1910. Pada sepuluh tahun berikutnya, santri berlipat lagi menjadi 2000 orang. Masih menurut Choirul Anam yang mengutip pendapat Jepang, pada tahun 1942, murid KH Hasyim Asy’ari diperkirakan 25 ribu orang.  

Tentang pesantren Tebuireng dan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, KH Saifuddin Zuhri menyebutkan bahwa: 

Pesantren Tebuireng pada tahun 1939-1940 tetap berada di bawah langit yang cerah dalam masa keemasannya. Tebuireng menjadi mercusuar pondok-pondok pesantren di seluruh Indonesia. Tebuireng menjadi trade mark dan identitas kaum santri.

Menyebut diri sebagai alfaqir Allah Ta’ala merupakan kebiasaan KH Muhammad Hasyim Asy’ari pada tiap dokumen yang terkait dengannya. Misalnya saat ia mengisi pendataan orang-orang terkemuka di Indonesia yang dilakukan Jepang melalui GUNSEIKANBU TJABANG I, Pegangsaan Timur 36, Jakarta, awal mereka melakukan penjajahan Indonesia. 

Kiai Hasyim Asy’ari memiliki karya lebih dari itu. Sebagaimana ditulis di website Tebuireng (tebuireng.online) berdasar penelusuran oleh KH Ishom Hadzik, diperoleh catatan tentang kitab-kitab karya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari  yaitu : 1) Adab al A’lim wa al Muata’alim (Etika Guru dan Murid); 2) al Duraar al Muntatsirah fi al Masaa’il al Tis’a Asharah (Taburan Permata dalam Sembilan Belas Persoalan); 3) al Tanbihaat al Waajibaat Liman Yasna’u al Mawlid bi al Munkarat (Peringatan Penting bagi Orang yang Merayakan acara Kelahiran Nabi Muhammad dengan Melakukan Kemungkaran); 4) Risalah ahl al Sunnah wa al Jama’ah; 5) al Nur al Mubiin fi Mahabbati Sayyid al Mursalin (Cahaya Terang dalam Mencintai Rasul); 6) al Tibyan fi al Nahy an Muqaata’at al Arhaam wa al Aqaarib wa al Ikhwaan (Penjelasan tentang Larangan Memutus Hubungan Kerabat, Teman Dekat dan Saudara); 7) al Risalah al Tauhidiyah; 8) al Qalaaid fi maa Yajibu min al ‘Aqaaid (Syair-syair Menjelaskan Kewajiban Aqidah). 9) Arba’in Haditsan;10) Ar Risalah fil ‘Aqa’I’d; 11) Tamyizul Haqq min al Bathin; 12) Risalah fi Ta’akud al Akhdz bi Madzahib al A’immah al Arba’ah; 13) ar Risalah Jama’ah al Maqashid. (Abdullah Alawi)