::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kembali ke Khittah Rohaniah

Kamis, 21 Februari 2019 10:30 Pustaka

Bagikan

Kembali ke Khittah Rohaniah
Sisi rohani merupakan ruang di mana manusia bisa memperkuat karakter religiusitas yang transenden kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Hubungan vertikal manusia kepada Tuhannya tidak semata-mata untuk kepentingan pribadi, tetapi juga harus berdampak pada kehidupan sosial dan kemanusiaan secara umum. Ini yang dinamakan keseimbangan antara nalar dan naluri, kecerdasan sosial dan kecerdasan spiritual.

Secara hakikat, agama ada sebagai jalan hidup bagi manusia. Kedalaman rohani membantu manusia menyeimbangkan perilaku terhadap kehidupan sehari-hari sehingga tercipta kesejahateraan lahir dan batin. Lebih dari itu, penguatan rohani yang bermuara pada akhlak luhur menjadikan kebahagiaan masyarakat semakin mantap.

Quraish Shihab dalam bukunya Yang Hilang dari Kita: Akhlak (2017) menyebut, akhlak dan budi pekerti yang luhur sangat dibutuhkan untuk mengisi kehidupan masyarakat. Akhlak luhur merupakan keniscayaan dari kedudukan manusia sebagai makhluk sosial. Semakin luhur akhlak seseorang, maka semakin mantap kebahagiaannya. Demikian juga dengan masyarakat, semakin kompak anggota-anggotanya secara bersama-sama melaksanakan nilai-nilai akhlak yang disepakati bersama, maka semakin bahagia masyarakat tersebut.

Tujuan-tujuan kemanusiaan dan peradaban itu tidak terlepas dari penyucian batin melalui perbuatan-perbuatan baik dan penguatan rohani lewat asupan-asupan kalam hikmah yang bisa dipelajari setiap Muslim. Dalam hal ini, Menjadi Manusia Rohani: Meditasi-meditasi Ibnu Athaillah dalam Kitab Al-Hikam yang ditulis Ulil Abshar Abdalla menjadi salah satu rujukan penting untuk mengisi relung-relung hati dan ruang-ruang rohani manusia.

Buku yang diterbitkan alif.id ini berupaya menerjemahkan kalam-kalam hikmah Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam kitab Al-Hikam. Ulil Abshar Abdalla memberikan syarah 50 kalam hikmah Ibnu Athaillah melalui metode ‘am (umum) dan khos (khusus). Integrasi dua metode syarah kitab tersebut semakin memudahkan dan memperluas perspektif pembaca dalam memahami makna aforisma-aforisma sufistik abad ke-13 itu.

Upaya kontekstualisasi juga dilakukan oleh Ulil Abshar Abdalla dalam menerjemahkan setiap kalam hikmah Ibnu Athaillah. Hal itu terlihat terhadap judul yang diberikan dalam setiap kalam hikmah. Dengan kata lain, pembaca bisa langsung memahami makna kalam Ibnu Athaillah dari setiap judul yang disajikan penulis.

Misalnya di halaman 14, penulis buku menyajikan judul Manusia Kamar atau Manusia Sosial? Judul tersebut untuk menerjemahkan kalam: “Kehendakmu untuk tajrid (mengisolir diri, tidak melakukan usaha), sementara Tuhan menempatkanmu pada maqam seorang yang harus berusaha, itu adalah sebentuk syahwat atau kesenangan nafsu yang tersembunyi. Sebaliknya, kehendakmu untuk ikut-ikutan berusaha, padahal Tuhan memberimu maqam sebagai orang yang seharusnya tajrid, itu adalah sebentuk kemerosotan kelas.”

Dari upaya kontekstualisasi dan penerjemahan atas kalam ke dalam judul yang lebih mudah dipahami pembaca, Ulil Abshar Abdalla lalu men-syarahi ke dalam makna dan pengertian umum dan pengertian khusus. Pemahaman yang luas terhadap berbagai literatur klasik dan penguasaan bahasa Arab penulis membuat Al-Hikam mudah dipahami dalam buku ini. Proses men-syarahi merupakan aktivitas intelektual para ulama terdahulu. Tradisi akademik ini merupakan salah satu proses penting terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Sajian tasawuf dalam buku ini memberikan peranan penting untuk menjadi manusia rohani seutuhnya di tengah krisis kemanusiaan dan kemerosotan akhlak. Hal ini menunjukan bahwa keseimbangan syariat dan hakikat penting sehingga adab tetap terjaga di tengah kehidupan. Sebab, tak sedikit orang yang berpengetahuan tetapi kurang berakhlak dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Inilah pentingnya memahami tasawuf akhlaqi yang dicetuskan oleh hujajatul Islam Imam Al-Ghazali, penulis kitab masyhur Ihya’ Ulumiddin. Di zamannya, Al-Ghazali juga mengkritik para sufi, ahli hikmah (hukama) yang menjauhkan diri dari syariat. Begitu juga para fuqaha (ahli fiqih) yang menafikan ilmu-ilmu hakikat. Hal ini tidak terlepas dari pemisahan satu sama lain sehingga Al-Ghazali melakukan integrasi antara syariat dan hakikat.

Syariat tanpa hakikat kehilangan ruh. Manusia tidak akan mudah terhubung dengan Tuhannya dalam memperkuat rohani yang terdapat dalam ilmu-ilmu tasawuf. Begitu pula hakikat tanpa syariat akan kehilangan jalan karena walau bagaimana pun, memahamkan agama kepada orang lain memerlukan jalan keilmuan yang kokoh. Dua entitas syariat dan hakikat saling melengkapi sehingga dakwah Islam di Nusantara pada masa-masa awal berhasil dilakukan oleh para Wali Songo.

Pada masa-masa awal perjuangan NU, para kiai dihadapkan pada potensi perpecahan umat Islam karena perbedaan pandangan keagamaan yang memunculkan khilafiyah. Bahkan, perbedaan tersebut kerap memunculkan perdebatan yang hebat di beberapa daerah antar masing-masing organisasi Islam. Padahal, saat ini bangsa Indonesia sedang terjajah sehingga konflik antarumat Islam tentu tidak ideal. Ini baru perbedaan pandangan keagamaan, belum lagi jika menilik keragaman atau kemajemukan bangsa Indonesia.

Dalam pandangan KH Achmad Siddiq, Rais ‘Aam PBNU yang hidup dalam kurun waktu 1926-1991, pendekatan kesufian atau rohani bisa menjadi solusi canggih dalam menyelesaikan konflik tersebut. Sebab, kesufian bisa merangkul semua umat manusia tanpa melihat dan membeda-bedakan asal-usul, suku, ras, warna kulit, golongan, atau bahkan agamanya. (Menghidupkan Ruh Pemikiran KH Achmad Siddiq, 1999)

Dalam tasawuf atau dunia kesufian, semua makhluk dipandang sama. Manusia dalam diskursus tasawuf merupakan makhluk baik tanpa ada prasangka yang sifatnya ideologis, teologis, atau pandangan diskriminatif. Perbedaan agama, suku, bangsa, warna kulit hanyalah perbedaan artifisial yang tidak boleh menghambat persaudaraan manusia.

Hadirnya buku ini bukan hanya memperkuat pemberadaban (civilizing) bangsa seperti yang dikatakan penulisnya, Ulil Abshar Abdalla, tetapi juga mengembalikan sisi-sisi kemanusiaan manusia. Kembali pada ‘Khittah Rohaniah’ menjadi jalan strategis manusia, bukan hanya untuk mempertegas dan memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, tetapi juga memanusiakan diri Anda sebagai manusia. Selamat membaca! (Fathoni Ahmad)

Identitas buku:
Judul: Menjadi Manusia Rohani: Meditasi-meditasi Ibnu Athaillah dalam Kitab Al-Hikam
Penulis: Ulil Abshar Abdalla
Penerbit: alif.id dan el-Bukhori Institute
Cetakan: I, Januari 2019 
Tebal: xxi + 292 halaman
ISBN: 978-602-53634-2-9