::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mahasiswa Sosiologi Unusia Kaji Penanganan Bencana di Era Industri 4.0

Kamis, 21 Februari 2019 19:30 Nasional

Bagikan

Mahasiswa Sosiologi Unusia Kaji Penanganan Bencana di Era Industri 4.0
Kuliah umum penanganan bencana era indutri 4.0 di Unusia (21/2)
Jakarta, NU Online
Himpunan Mahasiswa Sosiologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Himasos Unusia) menggelar acara kuliah umum Kamis (21/19).

Dalam kegiatan yang mengangkat tema Proyeksi Mitigasi dan Manajemen Bencana di Era Revolusi Industri 4.0, menghadirkan Guru Besar Universitas Pertahanan, Syamsul Ma'arif. Ia memaparkan bahwa bencana sebenarnya tidak bisa hanya melalui satu perspektif saja.

"Dalam bencana ada tiga mazab kebencanaan, ada mazhab tentang hazard (fisik) bicaranya tentang bendungan, bangunan. Lalu ada mazhab disaster (fenomena sosial). Ketiga adalah perceptiveness atau penyadaran dan edukasi," papar pria yang juga Ketua Pusat Studi Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim Universitas Pertahanan (PSB-API Unhan).

Dalam era industri 4.0, lanjutnya, sangat penting untuk para muda millenial membuat sebuah inovasi baru yang dapat dijadikan pijakan dalam pengurangan risiko bencana. Hal itu berarti bahwa setiap revolusi teknologi dari masa ke masa senantiasa melahirkan cara-cara yang baru bagi manusia untuk berinteraksi dengan manusia lain.

Salah satu respons menghadapi bencana saat ini adalah kumac, yaitu sebuah rumah dengan terobosan inovasi teknologi modern yang dibangun untuk rumah yang kuat dan tahan lama. Kumac dibangun dengan bahan yang tidak mudah terbakar, antijamur, antirayap, anti karap, bisa dibangun dalam keadaan hujan dan hanya membutuhkan waktu empat jam.

"Ini (kumac) merupakan salah satu terobosan terbaru untuk menanggulangi bencana di era industri 4.0," tegasnya.

Selaras dengan Syamsul Ma'arif, M Ali Yusuf, ketua LPBI PBNU mengatakan kajian mengenai resiko bencana sangatlah penting. Seperti halnya mendeteksi letak terjadinya bencana, potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana dalam suatu wilayah yang dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi kerusakan atau kehilangan harta dan gangguan kegiatan masyarakat.

Dalam perspektif sosiologi, bencana merupakan sebuah fenomena sosial, ketika masyarakat tanggap, tahu dan siap akan terjadinya bencana maka bencana itu pun tidak akan menyebabkan banyak kerusakan.

"Penanggulangan bencana adalah sebuah upaya yang menyeluruh dalam arti yakni menyeluruh dengan segala macam peraturan yang ada, harus menghargai peraturan daerah yang ada, memberi partispasi, kesetiakawanan, tolong menolong, dan terarah," papar Ali. (Iftihatun Mu'tamaroh/Kendi Setiawan)