::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pengakuan Abu Jahal tentang Kebenaran Nabi Muhammad

Jumat, 22 Februari 2019 06:00 Sirah Nabawiyah

Bagikan

Pengakuan Abu Jahal tentang Kebenaran Nabi Muhammad
“Ya Allah muliakanlah Islam dengan salah satu di antara kedua lelaki ini, Abu Jahal bin Hisyam atau Umar bin Khattab,” doa Nabi Muhammad saw. untuk Abu Jahal dan Umar bin Khattab.

Abu Jahal atau Amr bin Hisyam adalah salah satu elit Quraisy yang sangat memusuhi dakwah Islam yang diemban Nabi Muhammad saw. Dia dikenal sebagai pribadi yang kejam, bengis, dan tidak segan menghabisi lawan-lawannya. Karena sikapnya yang seperti itu lah, Abu Jahal dijuluki sebagai Fir’aun pada zaman Nabi Muhammad saw. Salah satu sahabat yang merasakan tangan dingin Abu Jahal adalah Sumayyah. Salah satu sahabat Nabi Muhammad saw. yang gugur setelah mendapatkan siksaan dari Abu Jahal.

Berbagai macam cara dilakukan untuk menghentikan dakwah Islam. Mulai dari mengintimidasi umat Islam hingga mengancam Nabi Muhammad saw. secara terang-terangan. Bahkan, suatu ketika Abu Jahal pernah melarang Nabi Muhammad saw. untuk mengerjakan shalat. Namun, Rasulullah tidak gentar dengan gertakan Abu Jahal tersebut. 

Abu Jahal juga adalah orang yang menyulut terjadinya perang Badar. Pada saat itu, pasukan kaum musyrik Quraisy ‘terbelah’. Sebagian mereka ingin terus berperang melawan umat Islam. Sebagian lain menganggap kalau perang itu tidak perlu terjadi karena sudah tidak ada urgensinya lagi. Semula tujuan awal mereka adalah mengamankan kafilah dagang Abu Sufyan. Karena kafilah Abu Sufyan sudah sampai Makkah dengan selamat, maka mereka menganggap kalau perang itu tidak ada urgensinya lagi.

Akan tetapi, Abu Jahal dan elit lainnya mengobarkan semangat tempur pasukan kaum muysrik Quraisy. Kata mereka, saat ini adalah waktu yang tepat untuk memberi pelajaran bagi kaum Muslim yang telah menginjak harga diri dan mencaci maki tuhan mereka. Singkat cerita, lalu meletuslah perang Badar yang kemudian dimenangkan oleh pasukan umat Islam. 

Meski demikian, merujuk buku Para Penentang Muhammad saw. (Misran dan Armansyah, 2018), pada awal-awal turunnya Al-Qur’an Abu Jahal kerap kali menyelinap ke rumah Nabi Muhammad saw. untuk mendengarkan bacaan Al-Qur’an. Abu Jahal merasakan sebuah keajaiban manakala mendengarkan lantunan Al-Qur’an yang dibacakan Nabi Muhammad saw. 

Menariknya, Abu Jahal tidak sendirian ketika menyelinap ke rumah Nabi Muhammad saw. untuk mendengarkan Al-Qur'an. Ada Abu Sufan dan al-Akhnas juga. Meski mereka tidak janjian, namun mereka kerap saling kepergok satu sama lain. Dikabarkan kalau kejadian Abu Jahal menyusup rumah Nabi Muhammad saw. berlangsung selama tiga malam berturut-turut. Seolah mereka ketagihan dengan bacaan Al-Qur’an. Meski demikian, hal itu tidak sampai membuat Abu Jahal masuk Islam.

Abu Jahal juga pernah memberikan kesaksian tentang kebenaran dan kejujuran Nabi Muhammad saw. Sebagaimana keterangan dalam buku Rasulullah Teladan untuk Semesta Alam (Raghib as-Sirjani, 2011), al-Miswar bin Makhramah pernah bertanya kepada pamannya, Abu Jahal, perihal sosok Nabi Muhammad saw. Kata Abu Jahal, Nabi Muhammad saw. adalah seorang yang sangat jujur, tidak pernah berbohong, sehingga dia diberi julukan al-Amin (yang terpercaya). Lalu al-Miswar bertanya lagi mengapa Abu Jahal tidak mau mengikuti Nabi Muhammad saw.

“Wahai anak saudariku, kami dan Bani Hasyim saling memperebutkan kehormatan. Mereka memberi makan, kami pun memberi makan. Mereka memberikan minum, kami pun memberikan minum. Mereka membayar orang untuk bekerja, kami pun sama,” jawab Abu Jahal. 

“Sehingga ketika kami duduk di atas kendaraan kami (karena kami bermusuhan), kami seperti dua ekor kuda taruhan, maka mereka berkata, ‘Di antara kami ada seorang nabi’. Maka kapan kah kami mendapatkan hal tersebut?” lanjutnya.

Hal yang sama juga ditanyakan al-Akhnas bin Syuraiq pada hari perang Badar. Pada waktu itu, al-Akhnas meminta Abu Jahal untuk berkomentar tentang Nabi Muhammad saw. dengan sejujur-jujurnya. Lagi-lagi, Abu Jahal menjawab kalau Nabi Muhammad saw. adalah seorang jujur dan tidak pernah berbohong satu kali pun. 

“Akan tetapi, jika Bani Qushay sudah memegang bendera, menjaga Ka’bah, memberi minum orang haji, dan memiliki kenabian, maka apa lagi yang tersisa untuk Quraisy yang lainnya?” kata Abu Jahal. 

Sikap permusuhan dan pertentangan yang ditunjukkan Abu Jahal bukan karena keyakinan kalau Nabi Muhammad saw. berdusta dan hanya mengaku-aku saja sebagai nabi dan rasul Allah. Akan tetapi, sikapnya itu lebih didasarkan kepada fanatisme golongan. Tidak rela kalau Bani Qushay menguasai segalanya. (A Muchlishon Rochmat)