::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Suara 'Ah-ah-ah' yang Tercyduk Kiai

Jumat, 22 Februari 2019 04:00 Humor

Bagikan

Suara 'Ah-ah-ah' yang Tercyduk Kiai
Pengajian-pengajian sedang marak baik di desa maupun di kota. Ustadz-ustadz sebagai penceramah baru bermunculan. Berkat media sosial, penceramah-penceramah makin bisa dijangkau oleh jamaah-jamaah yang jauh. Jarak dan waktu tak lagi menjadi urusan besar. Namun tetap saja, pengajian offline tetap diminati. 

Alkisah, di sebuah desa mengadakan pengajian umum dalam sebuah peringatan hari besar Islam. Desa tersebut mengundang penceramah dari kota, ustadz yang lagi in di media sosial. Namun, warga desa tersebut tidak mengetahui latar belakang penceramah tersebut, pernah nyantri di mana, berapa tahun lamanya menimba ilmu, gurunya siapa, reputasi keilmuannya sepertinya. Bagi warga desa, yang penting terkenal di media sosial. Biaya mengundangnya hingga belasan juta bukan urusan. 

Warga desa itu melupakan kiai kampung yang selama ini membimbing mereka tiap hari tanpa bayaran sama sekali. Bahkan pada kegiatan tersebut mereka lupa mengundangnya. 

Kiai yang sederhana itu malah mengangon sapi di tegalan. Tak jauh dari desa itu. Karena semalam tidak tidur pulas, ia ketiduran di sebuah dangau. Lupa sapinya entah kemana. 

"Ah..., ah, ah..."

Sang kiai kampung itu terbangun ketika mendengar suara itu. Ia mengucek-ucek mata dan memusatkan telinganya pada suara itu.

"Ah..., ah, ah..."

Seketika ia ingat sapinya. Ia pun bangkit dan mencarinya. Ia khawatir sapinya dalam kondisi berbahaya karena melenguh berkali-kali. Namun, ternyata sapinya aman. Mereka sedang merumput dengan aman dan tertib di tegalan. Lalu suara itu dari mana? 

"Ah..., ah, ah..." 

Kembali suara itu terdengar. Ia penasaran. Lalu mendekati sumber suara. Ternyata ketika diikuti, suara itu bersumber dari kampungnya. Suara dari pengeras suara yang terdengar samar-samar. Karena penasaran apa yang sebenarnya terjadi, ia terus mendekati suara itu. 

Ternyata "Ah..., ah, ah..." itu bersumber dari pengajian yang mengundang penceramah dari kota. Sang penceramah rupanya sedang mengabsen satu per satu amaliah desa tersebut dengan fatwa bid'ah. 

"Tahlilan, bid'ah."

"Haulan, bid'ah."

"Slametan, bid'ah."

"Ziarah kubur, bid'ah..."

"Bid;ah..."

"Bid'ah...."

"Bid..."

"Ah..."(Abdullah Alawi)