::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mengapa Para Wali Dikaruniai Karomah?

Jumat, 22 Februari 2019 16:00 Hikmah

Bagikan

Mengapa Para Wali Dikaruniai Karomah?
Ilustrasi (ist)
Pada masa Nabi orang tidak heran dengan kisah-kisah Mukjizat yang diterangkan dalam Al-Qur’an. Lain halnya ketika umat semakin jauh dari masa kenabian, umat bakal bertanya-tanya tentang kebenaran kisah-kisah tersebut. Di benak sebagian umat, mereka bertanya-tanya, apa benar kisah-kisah dalam Al-Qur’an itu, hanya fiktif atau legenda belaka?

Hal ini sangat terkait dengan keimanan yang bagi sebagian orang perlu pembuktian terdekat. Maka dari itu, munculnya karomah-karomah di tangan ulama-ulama besar dan para wali seperti Syekh Abdul Qadir Jaelani salah satunya untuk mengangkat kepercayaan umat supaya lebih tebal keimanannya terhadap mukjizat Nabi Muhammad SAW atau mukjizat-mukjizat yang dikisahkan dalam Al-Qur’an.

Maka, lahirlah karomah-karomah atau keistimewaan-keistimewaan tersebut, seperti Syekh Abdul Qadir Jailani yang dikisahkan Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya dalam Secercah Tinta (2012) memiliki karomah bisa menghidupkan orang yang sudah meninggal. Hal ini akan mempertebal keimanan seseorang bahwa mukjizat yang dimiliki para Nabi adalah benar. Buktinya, para ulama penerusnya memiliki keistimewaan yang tidak dipunyai setiap orang.

Orang awam atau umum akan semakin kuat, tebal, dan semakin percaya terhadap keistimewaan yang diberikan Allah SWT kepada para manusia pilihannya. Demikian juga Imam Yahya bin Hasan yang juga keturunan Syekh Abdul Qadir Jailani akhirnya disebut Bin Yahya. Karomah-karomahnya juga bisa menghidupkan orang mati. 

Habib Luthfi meriwayatkan, suatu ketika berjalan dengan romobongan dari Tarim, Hadhramaut, Yaman, rombongan tersebut hendak ziarah ke Baitullah al-Haram Makkah kemudian ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW.

Dalam perjalanan ke Madinah setelah dari Makkah, seorang rombongannya ada yang meninggal. Kemudian ada yang melapor kepada Imam Yahya bahwa ada anggota rombongan yang meninggal. 

Lalu Imam Yahya datang dan memegang telinga orang tersebut dan berkata: “Hai kamu mau saya ajak ziarah ke jaddana (kakekku) al-Musthafa SAW. Nanti setelah berziarah ke jaddana al-Musthafa SAW, mau mati, matilah. Ayo qum biidznillah, hiduplah kembali dengan izin Allah.”

Akhirnya seorang anggota rombongan yang mati itu hidup kembali. Tetapi ketika kembali sampai di Tarim setelah ziarah ke makam Baginda Nabi Muhammad SAW, orang tersebut meninggal lagi. 

Itulah asal-usulnya kenapa disebut Bin Yahya, karena mempunyai karamah bisa menghidupkan. Menurut sumber kedua, disebut Yahya itu memang yang memberikan nama adalah Baginda Nabi SAW sesuai keterangan Habib Alwi bin Thahir Al-Hadad, Mufti Johor.

Karomah-karomah seperti itu tercatat tidak sedikit. Mukjizatnya Nabi Allah Uzair, hewan yang sudah mati sekian ratus tahun bisa dihidupkan kembali. Umat Sayidina Muhammad SAW ada yang seperti itu, bisa menghidupkan hewan yang sudah mati, yaitu Habib Abu Bakar bin Abdullah bin Thalib al-Athas. Kambing kesenangannya mati, akhirnya dihidupkan kembali oleh Habib Abu Bakar.

Karomah yang dimiliki oleh wali itu tidak hanya nampak ketika hidup saja. Tetapi setelah wafat, waliyullah masih diberi karomah. Dan bagi pengikut Ahlussunnah wal Jama’ah, kepercayaan terhadap adanya waliyullah dan karomah itu perlu diyakini secara baik. Bahkan empat imam madzhab sudah bersepakat mengenai karomah yang ada para wali ketika hidup maupun sudah wafat. (Fathoni)