::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

JIHAD PAGI

Bupati Pringsewu: Hakikat Memberi Adalah Menerima

Ahad, 24 Februari 2019 09:45 Daerah

Bagikan

Bupati Pringsewu: Hakikat Memberi Adalah Menerima
KH Sujadi, Bupati Pringsewu

Pringsewu, NU Online
Mustasyar PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung KH Sujadi menjelaskan bahwa tidak satu hari pun di mana pada pagi harinya seorang hamba ada padanya melainkan dua Malaikat turun kepadanya.

Salah satu di antara keduanya berkata: Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak dan yang lainnya berkata: Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang kikir.

Penjelasan dikutip dari hadits Nabi riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim yang menegaskan pentingnya berbagi rezeki dengan berinfak atau bersedekah.

Hal ini dijelaskannya saat memberi Kajian Tafsir Al-Qur'an pada Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) di gedung PCNU Kabupaten Pringsewu, Ahad (24/2).

Hadits ini dikuatkan lagi dengan ayat Al-Qur'an surat As-Saba ayat 39 yang menegaskan bahwa hakikat memberi adalah menerima dari apa yang telah diberikan. Dalam ayat ini Allah berfirman: Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya.

"Sekecil apapun yang kita berikan pasti akan diganti oleh Allah. Digantinya bisa sekarang atau juga bisa besok. Bisa tidak kepada kita tapi kepada anak kita, cucu dan keturunan kita. Atau bisa saja disimpan oleh Allah sebagai tabungan kita yang akan diberikan suatu saat," jelasnya.

Dasar inilah yang menurutnya harus diwujudkan oleh setiap diri umat Islam untuk senantiasa berbagi rezeki dalam bentuk apapun melalui infak kepada orang lain setiap hari dan setiap saat. Bukan hanya kepada manusia, berbagi juga bisa diberikan kepada makhluk ciptaan Allah lainnya.

"Mari biasakan setiap hari berinfak apapun bentuknya bahkan kepada hewan seperti kucing, ayam dan yang lainnya. Kalau di hati ada keinginan melakukan kebaikan maka jangan ditunda, segerakanlah. Karena saat itulah kita sedang dibimbing oleh Allah SWT," katanya.

Tidak semua orang diberikan anugerah dalam hatinya untuk berbagi dengan apa yang dimilikinya. Jadi, keinginan dalam hati untuk berbagi hakikatnya adalah sebuah kebahagiaan. Sehingganya hal itu harus disyukuri dengan cara melakukannya.

Memang kecenderungan manusia ketika bertambah harta dan fasilitasnya ia akan tambah kebakhilannya. Namun perlu diingat bahwa orang yang mau memberikan hak Allah yang ada pada orang tersebut maka ia akan didorong ketakwaannya dan akan meraih kebahagiaan serta keuntungan dunia dan akhirat.

"Orang yang berbahagia akan didorong dan dipermudah untuk meraih kebahagiaannya. Kullu muyassarun lima khuliqo lah. Berbuatlah karena setiap orang dimudahkan melakukan apa yang ditakdirkan untuknya. Barang siapa yang ditakdirkan untuk surga ia diberi kemudahan untuk melakukan amalan penduduk surga, dan barang siapa yang ditakdirkan untuk neraka ia diberi kemudahan untuk melakukan amalan penduduk neraka," jelasnya mengutip hadits Nabi.

Ulama yang juga Bupati Pringsewu ini juga mengingatkan agar kecintaan terhadap dunia jangan sampai mengalahkan kecintaan kepada akhirat. Kehidupan abadi di akhirat harus diutamakan dengan tidak mengabaikan kehidupan di dunia sehingga kebahagiaan abadi akan dapat diraih di akhirat.

"Seringan-ringannya siksa neraka itu adalah ketika ada kerikil neraka di telapak kaki kita dan kepala langsung mendidih. Semoga kita terhindar dari siksa neraka," pungkasnya.

Selain diisi dengan kajian tafsir surat Al-lail oleh Bupati Pringsewu, pada kesempatan tersebut juga digelar tasyakkuran 4 tahun majelis Jihad Pagi. Tasyakkuran tersebut diisi dengan doa bersama dan menikmati makanan khas Arab Saudi yakni nasi kebuli dan kopi arab secara berjamaah.

Hadir pada acara tersebut Ketua Umum MUI Kabupaten Pringsewu KH Hambali, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu H Taufik Qurrohim, pengurus NU, badan otonom serta lembaga NU dari berbagai tingkatan. (Muhammad Faizin)