::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ketika Kiai Hasyim Asy’ari Mengaji Tafsir

Jumat, 08 Maret 2019 15:25 Fragmen

Bagikan

Ketika Kiai Hasyim Asy’ari Mengaji Tafsir
Ada cerita unik datang kepada saya tentang salah satu sisi kehidupan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari. Cerita itu datang dari KH R Abdus Syahir, seorang kiai kampung di Desa Bandungan Kecamatan Pakong Kabupaten Pamekasan, Madura. Kiai Syahir memiliki sepupu bernama Kiai RH Abdul Majid Tamim, seorang kiai yang aktif mengisi pengajian di Jember yang tak lain merupakan salah seorang murid langsung Kiai Hasyim Asy’ari di Tebuireng, Jombang.

Kiai Syahir menceritakan kepada saya, bahwa Kiai Abdul Majid bercerita kepadanya mengenai keunikan Kiai Hasyim Asy’ari ketika mengaji Ilmu Tafsir Al-Qur’an. Dikatakan bahwa, setiap kali Kiai Majid mengaji kitab tafsir kepada Kiai Hasyim, ia melihat bahwa kitab yang ada di hadapan Kiai Hasyim adalah Al-Qur’an tanpa membawa kitab tafsir yang sedang dikajinya. Dalam prosesnya Kiai Hasyim Asy’ari membacakan satu atau beberapa ayat Al-Qur’an kepada para santrinya lalu kemudian diterangkan tafsirnya. Menariknya adalah, penjelasan Kiai Hasyim sesuai dengan isi dalam kitab tafsir yang sedang dikaji.

“Jadi kata mas Majid, Kiai Hasyim itu unik dan hebat. Ia membaca Al-Qur’an yang ada di depannya, kemudian menjelaskan tafsir ayat tersebut sesuai kitab tafsir yang ada di depan santrinya,” kata Kiai Syahir bercerita kepada saya.

Uniknya lagi, metode tersebut tidak hanya berlaku untuk satu kitab tafsir saja, melainkan semua kitab tafsir yang dikaji di Tebuireng, mulai Kitab Tafsir Jalalain, Tafsir Shawi dan yang lain-lain yang diajarkan Kiai Hasyim pada para santri.

“Kalau Kiai Hasyim Asy’ari itu ahli hadits memang sudah masyhur dan wajar. Saya sudah sering mendengar kabar mengenai itu. Tapi Mas Majid menceritakan kepada saya keahlian dalam Tafsir Al-Qur’an.” Kata Kiai Syahir menambahkan.

Demikianlah sekelumit kisah yang menegaskan kompetensi keilmuan Sang Kiai (Hasyim Asy’ari) itu. Kiranya kemasyhuran dan kealimannya memang sudah selayaknya diakui di kalangan umat Islam bukan hanya di Nusantara, melainkan juga secara Internasional.

Santri Tebuireng

Kiai Abdul Majid sendiri lahir pada 1922 dan wafat pada tahun 2004. Semasa muda Ia belajar di Tebuireng Jombang, tepatnya pada pertengahan tahun 1930-an sampai awal tahun 1940-an beliau mengaji langsung kepada Kiai Hasyim Asy’ari. Setelah lulus, Kiai Majid terkenal sebagai penulis produktif di Madura. Oleh peneliti sejarah Indonesia berkebangsaan Belanda, Martin Van Bruinnessen dalam penelitiannya berjudul “Kitab Kuning: Books In Arabic Script Used In Pesantren Milieu”, Kiai Majid Tamim disebut sebagai salah satu tokoh yang berjasa dan banyak melakukan penerjemahan kitab-kitab salaf ke dalam bahasa Madura. 

Memang banyak kitab yang telah ia terjemahkan ke dalam Madura dari berbagai cabang keilmuan Islam seperti fiqih, hadist, shorof, mulai dari kitab Safinah An-Najah, Sullam Taufiq, Muqaddimah Hadlramiyah, Nadham Al-Maqshud hingg kitab Tafsir Jalalain. Selain itu beliau juga menulis kitab Tafsir Al-Mar’ah Al-Shalihah dan kitab “At-Tashrif”. Rata-rata karya tulis dan terjemahan Kiai Majid diterbitkan di Maktabah Salim Nabhan Surabaya.

Dari cerita singkat di atas kita dapat mengenal lebih dalam cerita tentang penguasaan KH Hasyim Asy’ari pada sejumlah bidang keilmuan dalam Islam termasuk ilmu tafsir Al-Qur’an. Tak hanya itu dari tangan beliau, banyak lahir ulama Nusantara seperti kiai RH Abdul Majid Tamim yang memberi sumbangsih begitu besar pada penyebaran ajaran Islam. Cerita ini sekaligus memperkuat eksistensi Pesantren Tebuireng sebagai pencetak kader ulama. 

Setelah mengenal lebih jauh, patutlah kita mengirim hadiah Al-Fatihah untuk KH Hasyim dan K RH Abul Majid Tamim. Lahuma Al-Fatihah.(R. Ahmad Nur Kholis)