::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ketua NU Serang Jelaskan Beda Penggunaan Istilah Beragama dan Berbangsa

Jumat, 08 Maret 2019 20:30 Daerah

Bagikan

Ketua NU Serang Jelaskan Beda Penggunaan Istilah Beragama dan Berbangsa
Serang, NU Online
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Serang, KH Matin Syarkowi menjabarkan makna takdiman watakriman dan sam'an watoatan. Menurutnya, beda konotasi antara kedua istilah dalam kehidupan berbangsa dan beragama.

Ia mencontohkan, seseorang wajib menghormati kedua orang tuanya sebagai orang yang merawat mengasuh dan melahirkannya ke dunia. Ketika orang tua tersebut mengajak perbuatan maksiat atau perbuatan tercela, maka seorang anak wajib menolaknya namun tidak menghilangkan takdiman watakriman.

"Kita wajib takriman watakdiman kepada orang tua, tapi dalam konteks samaan watoatan itu ada batas, misalnya orang tua kita mengajak maksiat. Nah, menolaknya bukan berarti menghilangkan takdiman watakriman. Kesimpulannya, sama siapa pun baik itu yang dianggap orang berilmu atau tidak berilmu tetap kita takdiman watakriman termasuk kita kepada sesama manusia," kata Kiai Matin, Jumat (8/3).

Ia menjelaskan dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara harus ada pembeda antara keyakinan dengan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah swt. Dengan demikian, seburuk-buruknya ciptaan Tuhan maka seorang manusia harus memuliakannya.

"Kalau manusianya berbeda agama berbeda warna kulit, berbeda status sosial tetap yang namanya manusia itu wajib kita muliakan, karena Allah sendiri yang memuliakan. Makannya soal penyebutan kafir dengan istilah non-Muslim itu tergantung elat, kalau kemudian kita saling mengkafirkan pada akhirnya mudarat menimbulkan kegaduhan ya sebut saja non-Muslim," ujarnya.

Fenomena saat ini, lanjut Pengasuh Pondok Pesantren Al-Fathaniyah, Kota Serang, Banten tersebut, semakin banyak orang yang merasa benar sendiri. Padahal, saat wahyu turun kepada Nabi Muhammad dalam ayat 'idza jaal munafiqun'  rasul, kata Kiai Matin, menindaklanjutinya dengan gaya komunikasi Rasul sendiri, tanpa menyebut orang dimaksud dengan sebutan munafik.

"Lalu ungkapan rasul soal munafiq bukan kepada orang lain tetapi kepada individu Muslim itu sendiri. Andaikan kita masuk ke wilayah tiga perkara itu maka kita sendiri terjerumus ke kemunafikan," tuturnya. (Abdul Rahman Ahdori/Kendi Setiawan)