::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tantangan Guru Agama di Era Digital

Ahad, 10 Maret 2019 00:50 Nasional

Bagikan

Tantangan Guru Agama di Era Digital
Guru Agama duta.co
Jakarta, NU Online

Perubahan zaman bukan perkara yang bisa dihindari. Banyak hal yang mempengaruhi perubahan, baik faktor internal maupun eksternal, misalnya globalisasi. Arus globalisasi membawa banyak perubahan termasuk dengan perkembangan teknologi. Namun seperti pedang bermata dua, teknologi juga datang membawa kebaikan sekaligus memberi dampak negatif pada berbagai bidang kehidupan.

Hal terkecil misalnya, alih-alih mendekatkan yang jauh, teknologi justru menjauhkan yang dekat. “Perhatikan lingkungan kalian, saat lagi makan siang, yang dekat jadi jauh, yang jauh jadi dekat. Semuanya  memegang handphone, interaksi langsung dengan orang yang dekat menjadi hal yang langka. Anak muda jadi individualis, kalau tidak ada hubungan dengan mereka, meraka tidak akan mau tahu, sehingga nilai kebangsaan, nasionalisme  dan persaudaraannya secara tak langsung tergerus,” kata Kepala BNPT Suhardi Alius di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bengkulu, Jumat (08/03).

Selain itu, era internet yang juga datang dengan arus informasi membawa informasi dalam jumlah yang massal yang kerap kali berisi konten yang berbahaya. “Kita lihat internet sekarang, konten yang berada didalamnya  tidak hanya bermanfaat, tapi juga bisa membawa dampak yang buruk. Konten hoaks, kekerasan, pornografi bahkan penyebaran paham-paham radikal ada di internet. Tidak sedikit orang-orang yang dicuci otaknya hanya melalui internet, kemampuan kita memfilter yang menentukan,” katanya 

Fenomena ini menjadi tantangan tersendiri bagi para mahasiswa yang hendak menjadi tenaga pengajar di kemudian hari. Sebab peran guru dan pengajar saat ini mudah tergantikan oleh keberadaan mesin pencari seperti google dan yang lain, yang terkadang menjebak murid pada informasi yang menyesatkan. 

“Jaman sekarang orang belajar ilmu agama tidak lagi di IAIN, padahal banyak ustad di sini. Sekarang orang belajar agama dari ‘ustad google’, sehingga malah banyak yang terjebak  pada ajaran yang salah dan menyesatkan,” ujarnya.

Oleh karena itu era arus informasi yang sedemikian deras seperti saat ini membutuhkan kemampuan menyaring informasi yang benar. Kemampuan tersebut semakin dibutuhkan bagi mereka yang kelak akan menjadi tenaga pengajar sehingga bisa membimbing muridnya kelak dan tidak malah menjadi tenaga pengajar yang terpapar paham yang tidak benar.

“Bagaimana kita memberikan penjelasan Islam yang moderat, kepada anak didik mereka nantinya. Dengan hal-hal semacam ini mereka bisa mengerti, mengindetifikasi masalah dan bagaimana menuntun anak muridnya di masa yang akan datang,” katanya. (Red: Ahmad Rozali)