::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Hukum Bertaqiyah menurut Kelompok Aswaja

Rabu, 13 Maret 2019 10:30 Bahtsul Masail

Bagikan

Hukum Bertaqiyah menurut Kelompok Aswaja
(Foto: @youtube)
Assalamu 'alaikum, semoga keberkahan Allah senantiasa menyertai rubrik ini dalam perjuangannya berdakwah lewat medsos. Pertanyaan saya, bagaimana bertaqiyah menurut Aswaja Nahdlatul Ulama (NU)? Terima kasih atas perhatiannya. Wassalamu 'alaikum. (Enang Suwarman).

Jawaban
Wa alaikum salam wr. wb. Terima kasih atas apresiasinya terhadap rubrik Bahtsul Masail ini. Penanya dan pembaca yang budiman. Istilah taqiyyah adalah istilah yang populer dan merupakan rukun dalam Syi’ah Itsna ’Asyariyah (Syiah Dua Belas Imam/Rafidhah), yang berbeda dengan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Dalam Syiah, taqiyyah adalah menyembunyikan kebenaran (kitmânul haqq), menutupi keyakinan (satrul i‘tiqâd fîh), dan merahasiakan dari para lawan (mukâtamatul mukhâlifîn), serta tidak menerima bantuan lawan yang bisa merugikan agama atau urusan dunia.

Singkatnya taqiyyah menurut Syiah, seseorang menampakkan sesuatu perkataan atau perbuatan keagamaan yang bertentangan dengan kebenaran dan keyakinan Syiahnya, yang berbeda dengan keyakinanlawannya, termasuk di sini Aswaja (Sunni).

Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam Fathul Bari Syarh Shahîhil Bukhârî menjelaskan pengertian dan kebolehan ber-taqiyyah:

ومعنى التقية الحذر من إظهار ما في النفس من معتقد وغيره للغير، وأصله وقية بوزن حمزة فعلة من الوقاية.... قال ابن بطال تبعالابن المنذر: "أجمعوا على أن من أكره على الكفر حتى خشي على نفسه القتل، فكفر وقلبه مطمئن بالإيمان: أنه لا يحكم عليه بالكفر"....قال ابن بطال: "أجمعوا على أن من أكره على الكفر واختار القتل: أنه أعظم أجرًا عند الله ممن اختار الرخصة". 

Artinya, “Makna taqiyyah adalah menghindari dari menampakkan kepada orang lain mengenai sesuatu yang ada dalam hati, berupa keyakinan dan selainnya. Kata taqiyyah berasal dari kata waqyah sepadan dengan kata hamzahfa‘lah bermakna al-wiqâyah (memelihara diri)....Ibnu Bathâl mengikuti Ibnu Mundzir menuturkan, bahwa para ulama sepakat bahwa orang yang dipaksa untuk kafir, ketika ia khawatir terhadap keselamatan jiwanya, kemudian ia mengucapkan kata-kata kafir dengan hati yang tetap teguh dalam keimanannya, maka ia tidak dihukumi sebagai kafir... Ibnu Bathal berkata, ‘Ulama sepakat bahwa orang yang dipaksa untuk kafir, akan tetapi ia rela memilih untuk dibunuh, maka baginya pahala yang besar di sisi Allah, daripada memilih rukhshah/ dispensasi,” (Lihat Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Fathul Bârî bi Syarhi Shahîhil Bukhârî [Riyad, Dârut Thaibah: 2005], juz XVI, halaman 216 dan 221).

Jadi, pengertian taqiyyah dalam Islam, dalam pandangan Aswaja, biasanya diberlakukan terhadap orang-orang kafir, berdasarkan firman Allah SWT:

لَايَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُوْنَ الْكَافِرِيْنَ أَوْلِيَاۧء مِنْ دُوْنِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ فِيْ شَيْءٍ اِلَّا اَنْ تَتَّقُوْا مِنْهُمْ تُقَاةً وَّيُحَذِّرُكُمُ اللهُ نَفْسَهُ وَاِلَى اللهِ الْمَصِيْرُ.

Artinya, “Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, melainkan orang-orang beriman. Barang siapa berbuat demikian, niscaya dia tidak akan memperoleh apa pun dari Allah, kecuali karena (siasat) menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Allah tempat kembali,” (Surat Ali Imran ayat 28).

Ibnu Jarir At-Thabari menafsirkan bahwa taqiyyah yang disebutkan Allah dalam ayat ini adalah taqiyyah terhadap orang-orang kafir, bukan selain orang kafir. Oleh karena itu, ada ulama salaf yang berpendapat tidak ada taqiyyah setelah Allah memuliakan dan memberikan kemenangan bagi Islam.

Imam Al-Qurthubi mengatakan bahwa Mu’ad bin Jabal dan Mujahid menuturkan, “Taqiyyah berlaku pada masa awal-awal Islam, sebelum umat Islam kuat. Sedangkan sekarang, Allah telah memberikan kemenangan kepada umat Islam sehingga hendaknya mereka tidak perlu lagi merasa takut”.

Pandangan ini jelas berbeda dengan taqiyyah menurut Syiah karena mereka ber-taqiyyah terhadap kaum Muslimin (Ahlussunnah), dan terus berlangsung.

Dalam Aswaja, ber-taqiyyah adalah dispensasi (rukhshah) atau keringanan yang diberikan kepada seseorang pada saat keadaan darurat. Sebab itu, Allah SWT dalam Surat Ali Imran ayat 28 mengecualikan taqiyyah dari dasar larangan menjadikan orang-orang kafir sebagai wali/pemimpin, yang bila larangan ini dilakukan akan diancam tidak mendapat pertolongan-Nya, kecuali karena (siasat) menjaga diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.

Orang yang berada di suatu daerah atau pada suatu waktu ketika ia cemas terhadap perbuatan suatu hukum, maka ia boleh melakukan taqiyyah secara lahir saja, bukan secara batin/niat.

Dengan demikian, taqiyyah menurut Aswaja (Sunni) berbeda dengan taqiyyah menurut Syiah. Menurut Syiah, sebagaimana disebutkan oleh syekh mereka, Al-Mufid dalam Tashhîhul I‘tiqâd, taqiyyah bukanlah dispensasi, melainkan salah satu rukun agama mereka, yang hukumnya wajib sebagaimana shalat fardhu. Padahal, taqiyyah dalam Islam, tidak mencerminkan aturan umum dalam perilaku seorang Muslim, dan bukan karakteristik masyarakat Islami, melainkan taqiyyah --biasanya-- adalah kondisi individual yang bersifat temporer, disertai keadaan darurat terkait dengan ketidakmampuan berhijrah.

Taqiyyah akan hilang bersamaan hilangnya kondisi darurat atau keterpaksaan itu. Sedangkan taqiyyah menurut Syiah dianggap sebagai karakteristik pribadi dalam landasan dasar bermazhab; sebagai suatu kondisi yang bersifat kontinu; dan merupakan perilaku kolektif (jamaah) yang langgeng hingga munculnya Imam Mahdi (al-Qâ’im). Oleh karena itu, dalam pandangan Aswaja, taqiyyah yang dilakukan Syiah tidak lain merupakan kebohongan (al-kidzb) dan bentuk kemunafikan (nifaq). Padahal, sangat ditekankan hukum yang berlandaskan pada prinsip kejujuran (as-shiqd) dan keadilan (al-‘adl), bukan berpijak pada kedustaan (al-kidzbu) dan kemunafikan.

Hanya saja, ada perbedaan konteks: bila dalam taqiyyah Syiah, seseorang menampakkan sesuatu secara lahir yang sejatinya batil (salah), berbeda dengan keyakinannya yang dipandangnya benar; sementara perbuatan munafik justru menampakkan sesuatu yang benar menurut Islam, tetapi diingkari oleh hatinya.

Jadi bagi Aswaja NU: Taqiyyah hukumnya boleh, karena untuk menjaga diri, tetapi merupakan bentuk perkecualian dan dispensasi (rukhshah), sifatnya temporer (tidak langgeng), yang hakikatnya berlawanan dengan hukum asalnya (tidak boleh taqiyyah); kebolehan ber-taqiyyahpun berakhir saat faktor yang mendorong untuk taqiyyah telah hilang; dan taqiyyah biasanya diberlakukan terhadap orang-orang kafir, tetapi bisa pula terhadap selain orang kafir.

Demikian penjelasan ini semoga dapat dipahami dengan baik. Kami terbuka dalam menerima masukan dari pembaca yang budiman.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq
Wassalamu ’alaikum wr.wb.


(Ustadz Ahmad Ali MD, pengurus Lembaga Dakwah PBNU)