::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Negara Damai, Jalankan Syariat Islam Jadi Tenang

Kamis, 14 Maret 2019 09:25 Nasional

Bagikan

Negara Damai, Jalankan Syariat Islam Jadi Tenang
Zastrouw Al-Ngatawi (via istimewa)
Jakarta, NU Online
Akademisi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta Zastrouw Al-Ngatawi menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama merupakan organisasi keagamaan yang hingga saat ini menjadi penjaga Nusantara. Sebab, paradigma NU tidak membenturkan antara teologi dan nasionalisme.

"Jangkarnya Nusantara hari ini, itu tinggal NU," kata Zastrouw saat menjadi pembicara pada Diskusi Publik yang diselenggarakan Majelis Ulama dan Umara Nusantara (Maulana) di Rumah Pergerakan Gus Dur di Kalibata Timur, Jakarta, Rabu (13/3).

Ia mencontohkan bagaimana NU lantang dalam menggelorakan jargon 'NKRI Harga Mati', tetapi di sisi lain, terdapat kelompok keagamaan yang mengusung agar syariat Islam langsung ditegakkan dengan cara mendirikan negara agama.

Ia menjelaskan, jargon NU tersebut merupakan instrumen dalam melaksanaan syariat Islam. Sebab sambungnya, jika negara damai, maka umat Islam dalam menjalankan syariat Islam dapat dilakukan dengan tenang. 

Namun, jika sebaliknya, yakni negara dalam keadaan konflik seperti Syria, maka secara otomatis, umat Islam merasakan ketidaknyamanan dalam menjalankan syariat Islam.

"Kenapa NU mengatakan NKRI harga mati? Karena NKRI menjadi wasilah, instrumen dalam kita menjalankan syariat Islam," ucapnya.

Menurutnya, penerapan NKRI sebagai instrumen ini sesuai dengan kaidah fiqih yang menyatakan bahwa 'perkara yang menjadi penyempurna dari perkara wajib, hukumnya juga wajib'.

"Syariat Islam wajib, bisa menjalankan syariat Islam nek negaranya tenteram, aman, berdaulat, maka menjaga ketenteraman, kedaulatan NKRI hukumnya menjadi wajib, maka NKRI harga mati," terangnya mencontohkan.

Lebih lanjut, ia juga menjelaskan bahwa penerimaan NU terhadap Pancasila sebagai ideologi negara karena lima sila yang ada sesuai dengan ajaran dalam Islam. Oleh karena itu, tidak sepatutnya jika Pancasila dianggap thagut.

"Seluruh isi (sila-sila dalam) Pancasila itu cerminan dari Al-Qur'an dan hadits," ucapnya. (Husni Sahal/Fathoni)