::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Gus Nadir: Perlu Ada Ilmu Musthalah Medsos

Kamis, 14 Maret 2019 22:00 Nasional

Bagikan

Gus Nadir: Perlu Ada Ilmu Musthalah Medsos
Acara bedah buku 'saring sebelum sharing' di Solo
Solo, NU Online
Buku berjudul 'Saring Sebelum Sharing' karya Rais Syuriah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia, KH Nadirsyah Hosen (Gus Nadir) dibedah di Pesantren Az-Zayadiy Laweyan Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (14/3).

Acara yang dimoderatori oleh pengasuh Pesantren Al Muayyad Windan tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Gus Nadir sendiri dan pegiat komunitas Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Solo, Niken Satyawati.

Dalam pemaparannya, Gus Nadir menjelaskan keberadaan media sosial (medsos) di era saat ini begitu memberikan pengaruh yang besar kepada masyarakat. Dengan demikian, lanjut Gus Nadir, bahkan perlu dibuat jenis ilmu baru untuk memahami medsos. "Mungkin perlu ada ilmu musthalah medsos," kata Gus Nadir, disambut tawa para peserta bedah buku.

 Ia juga berpesan agar masyarakat, khususnya kaum santri bisa menggunakan medsos dengan bijak.

Sementara itu, tuan rumah penyelenggara kegiatan bedah buku yang juga pengasuh pondok setempat, KH Abdul Karim (Gus Karim) mengungkapkan pentingnya diadakan acara ini.

 "Dengan bedah buku ini, kita semakin hati-hati dalam menerima serta memberikan informasi. Saat ini, informasi begitu liar, terkadang juga menyesatkan umat," terang Gus Karim, saat ditemui NU Online di sela acara bedah buku.

Ditambahkan Gus Karim, pemilihan pesantren sebagai lokasi bedah buku ini, yakni pesantren sebagai simbol pendidikan akhlak.  Acara yang berlangsung sekitar tiga jam ini, diakhiri dengan sesi dialog dan tanya jawab. 

Buku Saring Sebelum Sharing, karya Gus Nadir mengajak pembaca untuk memahami teks melalui konteks, meninggalkan kebiasaan belajar secara instan, dan tidak mudah menghakimi yang lain hanya dari sepenggal ayat maupun hadits. (Ajie Najmuddin/Muiz)