::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Asnuter Jatim: Ini Dahsyatnya Shalawat

Jumat, 15 Maret 2019 09:00 Daerah

Bagikan

Asnuter Jatim: Ini Dahsyatnya Shalawat
Ngaji tasawuf di Unisma Malang, Jatim
Jombang, NU Online
Dewan Pakar Aswaja NU Center (Asnuter) Jawa Timur (Jatim), Ustadz Yusuf Suharto mengungkapkan terkait dahsyatnya shalawat pada acara Mbalah Aswaja dengan tema Pendekatan Tasawuf dalam Tradisi Sholawatan  yang dihelat Universitas Islam Malang (Unisma) di Masjid Ainul Yaqin Unisma, Rabu (13/3).  

Ia mengatakan, fenomena banyaknya penggemar shalawatan dari kalangan masyarakat kebanyakan itu adalah sesuatu yang menggembirakan. Karena membaca shalawat itu adalah metode yang pas untuk mengenalkan Islam. 

"Shalawat adalah ekspresi cinta kepada Nabi Muhammad, dan tanda cinta itu di antaranya adalah dengan kerap menyebutnya," ucapnya.

Shalawat dengan demikian adalah ibadah yang paling utama, walau tentu pada dasarnya membaca Al-Qur'an adalah ibadah yang paling utama.

Dinyatakan bahwa shalawat yang ada di dalam ayat Al-Qur'an itu lebih utama daripada ayat Qur'an yang tidak ada shalawatnya. "Seperti dalam Al-Qur'an surat Al-Ahzab ayat 56, Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi Muhammad, dan memerintahkan manusia beriman untuk bershalawat dan bersalam kepada Nabi Muhammad," katanya.

Ia menambahkan, ada dua zikir yang tanpa tahu maknanya pun tetap berpahala, yaitu membaca Al-Qur'an dan bershalawat.

"Keistimewaan shalawat tak terbatas, di antaranya adalah menyebabkan turunnya rahmat, menghapus dosa, mendatangkan hajat, menghilangkan problem yang sulit, menerangi hati, dan mendinginkan hati (menghilangkan panasnya tabiat). Sehingga orang yang gemar bershalawat itu bawaannya anteng dan menyejukkan," urainya.

Terkait fungsi menghilangkan panasnya diri ini dinyatakan, pada akhir zaman, kata dia, ketika sudah tidak ada Mursyid (pembimbing rohani) yang memenuhi syarat, maka bershalawat adalah yang utama. Karena bershalawat itu tidak membutuhkan guru pembimbing, walau tentu adanya guru pembimbing itu lebih baik. 

Kepada NU Online, Kamis (14/3) Ustadz Yusuf Suharto menjelaskan, bahkan sebagian ahli ma'rifat menyatakan bahwa shalawat itu dapat mengantarkan ma'rifat, meskipun tanpa syech (guru pembimbing), karena guru dan sanadnya langsung dari Rasulullah. 

"Dan kenapa Muslim Nusantara mentradisikan shalawatan dalam majelis-majelis pertemuan, atau bershalawat ketika di akhir acara?. Karena ada hadits bahwa tiadalah suatu komunitas itu duduk bersama kemudian berpisah tanpa membawa shalawat kepada Rasulullah, kecuali mereka bubar dalam keadaan lebih busuk daripada bangkai," jelasnya. 

Hadir pada kesempatan ini, Rektor Unisma, H Masykuri, Direktur Pascasarjana Unisma, yang juga Ketua ISNU Jatim,. H Mas'ud, Ketua LP Ma'arif NU Jawa Timur, Gus Nur Shodiq, dan segenap dosen dan staf Unisma. (Syamsul Arifin/Muiz)