::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Indonesia Beranekaragam, Islam Harus Jadi Rahmatan lil Alamin

Jumat, 15 Maret 2019 10:00 Nasional

Bagikan

Indonesia Beranekaragam, Islam Harus Jadi Rahmatan lil Alamin
Panglima TNI dan Kapolri hadiri tabligh akbar di Sumbar
Padang Pariaman, NU Online
Santri Pondok Nurul Yaqin Ringan-Ringan diharapkan jadi pemimpin dalam pandangan Allah. Pemimpin yang memandang semuanya dengan makhluk Allah. Contoh pemimpin yang paling sukses di dunia ini adalah Nabi Muhammad SAW. Punya pengikut mencapai 2 miliar orang, padahal kepemimpinannya hanya berlangsung 23 tahun.

Demikian diungkapkan Ketua Umum Majelis Dzikir Hubbul Wathan KH Musthofa Aqil Siroj, pada Silaturrahmi Kebangsaan dan Tabligh Akbar di Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Pakandangan Kecamatan VI Lingkungan Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Kamis (14/3). 

"Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan dakwah dan memimpin umat manusia tidak punya facebook, twitter, whatsapp, tapi punya pengikut 2 miliar. Pertanyaannya, kenapa bisa sukses?," ujarnya.

Dijelaskan Kiai Musthofa, perintah kepada Nabi Muhammad dari Allah diawali bukan dengan menyebut nama Allah langsung. Tiga kali turun perintah ayat secara berturut-turut, yakni surat Al-Alaq, Al-Mudasir dan Al-Muzammil, tidak menyebut kata Allah. Melainkan kata Rab (Tuhan Semesta Alam). Baru surat keempat, Al-Fatihah ada kata Allah.

"Ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW itu diperintahkan memandang semuanya dengan makhluk Allah. Bukan semata diperintah untuk umat Islam. Dalam berbuat kepada seseorang, jangan melihat agamanya, sukunya, asalnya, namun sebagai sesama manusia harus berbuat baik," beber Kiai Musthofa.

Jangankan manusia, binatang saja dimuliakan oleh Nabi. Sikap inilah dasar dari kesuksesan Nabi dalam memimpin dan dakwah Islam.

Kiai Musthofa mengisahkan Nabi Muhammad selalu dihina oleh orang Yahudi yang buta. Pulang dari rumah orang Yahudi tersebut, Nabi membeli bubur (makanan) dan mendatangi lagi orang Yahudi tersebut dengan menyuapkan makanan yang dibawa dengan kasih sayang.  Setelah Nabi Muhammad wafat, perbuatan tersebut dilanjutkan oleh Khalifah Abu Bakar.

Orang Yahudi itupun bertanya, "Ini pasti bukan orang yang datang kemaren-kemaren ya?" Abu Bakar pun dengan jujur mengakui, orang yang datang kemaren itu sudah wafat. Lantas Abu Bakar ditanya lagi, memangnya siapa yang mengantarkan makanan kemaren itu?  Dijawab Abu Bakar, yang datang  dan menyuapkan makanan tersebut adalah Nabi Muhammad SAW.

"Spontan orang Yahudi itu kaget karena selalu menghina Nabi Muhammad. Dirinya sungguh tidak menyangka, ada orang yang terus dihina, tapi selalu memberikan kebaikan padanya. Akhirnya orang Yahudi tersebut masuk Islam," tutur Kiai Musthofa yang juga Rais Syuriyah PBNU itu.

Terkait dengan Indonesia yang beranekaragam, Kiai Musthofa menjelaskan, Islam harus jadi rahmatan lil alamin. Indonesia memang harus ada keturunan China, Minang, Jawa, Bugis dan seterusnya. Beragama Islam, Katolik, Protestan, Budha dan Hindu. Itulah Indonesia yang harus dijaga bersama oleh anak bangsa ini.

Acara Silaturrahmi Kebangsaan dan Tabligh Akbar dihadiri Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, Bupati Padang Pariaman Ali Mukhni, Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Yaqin Syekh Muhammad Rais Tuanku Labai Nan Basa, Ketua Yayasan Nurul Yaqin Idarusalam Tuanku Sutan, santri dan majelis guru pesantren Nurul Yaqin dan cabang Nurul Yaqin. (Armaidi Tanjung/Muiz)