::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ini Beda Teroris Jamaah Ansharut Daulah dan Jamaah Islamiyah

Jumat, 15 Maret 2019 21:15 Nasional

Bagikan

Ini Beda Teroris Jamaah Ansharut Daulah dan Jamaah Islamiyah
Jakarta, NU Online
Husain alias Abu Hamzah berhasil ditangkap oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Kepolisian Republik Indonesia pada Selasa (12/3) di Sibolga, Sumatera Utara. Pria tersebut merupakan jaringan dari Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Direktur Indonesia Muslim Crisis Center Robi Sugara menyampaikan bahwa gerakan JAD atau Islamic State biasanya membawa serta istrinya untuk terlibat dalam urusannya. “Jadi jika mereka sudah bersuami atau beristri, maka mereka juga pasti ISIS dan mereka tahu apa yang dilakukan oleh pasangannya.”

Hal ini tidak terjadi pada jaringan Jamaah Islamiyah. Kelompok terakhir ini tidak melibatkan istrinya. “Beda dengan JI yang hanya diketahui oleh suaminya saja. Istrinya tidak tahu.”

Karenanya, keterlibatan perempuan dalam terorisme itu diakibatkan dari ajakan suaminya. Bahkan tidak hanya istri, anak pun turut terlibat menjadi martir terorisme itu. “Jadi bukan kemudian perempuan meningkat tp kan mereka melibatkan perempuan dan juga bahkan melibatkan anak-anak,” kata dosen FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Robi mengungkapkan bahwa keberadaan mereka di luar Jawa bukanlah hal aneh. Pasalnya, sejak tahun 2014, Kalimantan Barat dan Sumatera termasuk wilayah Lampung di dalamnya menjadi tempat mereka kembali setelah dideportasi dari negara saat menuju ke medan ISIS atau karena mereka kecewa terhadap ISIS itu sendiri.

Menurutnya, orang-orang yang dideportasi sebelum sampai di Suriah itu sangat radikal. Kelompok inilah yang paling besar di antara 2000-an orang yang tercatat berbaiat ke ISIS sejak tahun 2014 lalu.

“Sebagian diantaranya pulang yang paling besar adalah mereka yang dideportasi oleh negara tertentu sebelum sampai ke Suriah bergabung dengan ISIS. Nah mereka yang dideportasi itu sangat radikal karena belum sampai ke sana,” katanya. (Syakir NF/Abdullah Alawi)