::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pengamat: Tindakan Teroris Selandia Baru Berdasar Kebencian

Jumat, 15 Maret 2019 21:45 Nasional

Bagikan

Pengamat: Tindakan Teroris Selandia Baru Berdasar Kebencian
Foto: TVNZ/REUTERS
Jakarta, NU Online
Penembakan yang dilakukan oleh seseorang di Masjid Al-Noor, Christchurch, Selandia Baru pada Jumat (15/3) tidak punya tujuan khusus seperti terorisme yang dilakukan oleh kelompok yang berjejaring.

"Dasarnya karena kebencian," kata Robi Sugara, Direktur Indonesian Muslim Crisis Center (IMCC), kepada NU Online, pada Jumat (15/3) sore.

Robi menjelaskan bahwa kebencian pelaku itu ditimbulkan dari narasi fobia Islam yang tengah marak di internet, khususnya media sosial. Karenanya, ia melihat pelaku tersebut terindikasi teradikalisasi dengan sendirinya melalui konten yang beredar di media sosial.

"Dia diradikalisasi oleh internet atau self radicalised di mana dia adalah korban dari narasi islamphobia," ucapnya.

Lebih lanjut, Dosen FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu memandang bahwa pelaku teror demikian itu terindikasi ketagihan bermain media sosial dan gim daring (game online).

"Dan lone wolf itu punya kebiasaan addict to sosmed dan game online," katanya.

Oleh karena itu, Robi menegaskan bahwa konten positif dan damai harus semakin diperbanyak di ranah media sosial. Caranya, menurutnya, dengan juga melahirkan banyak aktivis perdamaian.

"Harus perbanyak aktivis perdamaian di sosmed," ucap Robi.

Robi juga melihat gaya tindakan penembakan sendirian di Selandia Baru itu sama seperti yang pernah terjadi di Amerika Serikat beberapa waktu lalu.

"Yang di Selandia Baru itu model lone wolf. Pelakunya tidak memiliki jaringan kelompok. Jika berkelompok hanya terdiri antara dua sampai tiga orang. Sama halnya dengan kasus bom marathon di Amerika," pungkasnya. (Syakir NF/Abdullah Alawi)