::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Menhan: Ulama dan Santri Garda Terdepan dalam Menjaga Keutuhan Bangsa

Sabtu, 16 Maret 2019 06:00 Nasional

Bagikan

Menhan: Ulama dan Santri Garda Terdepan dalam Menjaga Keutuhan Bangsa
Menhan RI ceramah bela negara di Pesantren Tebuireng
Jombang, NU Online
Menteri Pertahanan (Menhan), Ryamizard Ryacudu meminta ulama dan santri untuk mengambil peran sebagai garda terdepan dalam menjaga keutuhan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Indonesia adalah rumah kita bersama. Sebagai anak bangsa, apakah kalian rela jika ada sekelompok orang yang tidak mengerti ingin menghancurkan kedamaian dan ketentraman yang kita miliki. Mereka juga ingin mengubah Pancasila dan menjadikan Indonesia menjadi bangsa tanpa keragaman atau negeri untuk satu golongan saja," beber Ryamizard.

Hal tersebut disampaikan Menhan saat memberikan ceramah Bela Negara di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Jumat (15/3).

"Sebagai santri yang mempelajari Islam Rahmatan Lil Alamin, seharusnya bangga menjadi bangsa Indonesia, karena bangsa ini adalah bangsa besar dan negara besar," ujarnya.

Dikatakan, para ulama dan santri semua yang hadir di sini lahir dari keturunan para pejuang dan patriot-patriot bangsa Indonesia. Saudara semua juga adalah pewaris utama kemurnian nilai-nilai Pancasila.

Oleh karena itu, semua harus menyadari bahwa marwah dan amanah yang mulia sebagai generasi penerus yang berkewajiban untuk melanjutkan cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945, yakni mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur terutama untuk kemaslahatan dan kesejahteraan umat berdasarkan Pancasila.

Menhan Ryamizard Ryacudu menjelaskan tentang ancaman-ancaman yang dapat mengganggu keutuhan bangsa Indonesia, yakni ancaman nyata dan ancaman belum nyata.

Ancaman non-fisik yaitu ancaman terhadap mindset bangsa Indonesia yang berupaya untuk mengubah Ideologi negara Pancasila atau yang populer dengan istilah Perang Modern atau Proxy War. "Ancaman ini berbentuk kekuatan 'soft power', yang berupaya untuk merusak jati diri bangsa Indonesia melalui pengaruh kehidupan ideologi asing yang beraliran materialisme," katanya. 

Ryamizard menyebutkan ancaman modern ini sudah terbukti dalam aksi pengeboman di Surabaya beberapa waktu lalu. Di mana seorang ibu mengajak anaknya meledakkan diri di dekat gereja. "Ancaman ini nyata, cukup bahaya. Bahkan seorang ibu tega mengorbankan anaknya. Di mana-mana ibu itu cinta sama anaknya. Sebelum punya anak dilakukan berbagai cara. Tapi akibat ideologi ini, sesuatu yang tak masuk akal terjadi," tambahnya.

Menurutnya, aksi teror ini merupakan salah satu bentuk penistaan terhadap agama, negara, dan bangsa Indonesia. Karena sangat berpengaruh terhadap keutuhan dan kesatuan bangsa adalah terorisme dan radikalisme.

Ancaman itu tidak hanya menimbulkan kerugian material dan nyawa serta menciptakan rasa takut di masyarakat, tetapi juga telah mengoyak keutuhan berbangsa dan bernegara. "Mereka ini bukan Islam, karena ajaran Islam adalah ajaran yang damai dan Rahmatan Lil-Alamin. Sangat tidak masuk akal seorang ibu dapat mengajak anak-anaknya untuk melakukan aksi bunuh diri," ujarnya.

Dalam kunjungan kerjanya itu, Menhan Ryamizard bersama rombongan menyempatkan diri untuk berziarah ke makam KH Hasyim Asy'ari dan Presiden Ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ditemani Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Solahudin Wahid. (Syarif Abdurrahman/Muiz)