::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Menjadi Ulama Tidak Cukup Hanya dengan Ilmu

Sabtu, 16 Maret 2019 10:00 Daerah

Bagikan

Menjadi Ulama Tidak Cukup Hanya dengan Ilmu
Kegiatan Pengajian Umum di Kudus, Jateng
Kudus, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Inshof Karanganyar Solo, KH Abdullah Saad menyampaikan, predikat ulama tidak cukup berilmu saja. Tetapi juga harus memiliki hubungan ruh dan cahaya dengan Nabi Muhammad SAW.

“Ulama-ulama kita di NU, kita yakini punya hubungan kepada Rasulullah,” tuturnya dalam Pengajian Umum Semarak Peganjaran Bersatu di Lapangan Desa Peganjaran, Kudus, Jawa Tengah, Jumat (15/03) malam.

Mengapa harus seperti itu? Karena syuhuduka ila hadrotil muhammadiyah. Kesaksianmu dan kemantapanmu kepada Nabi Muhammad itu lah yang dibutuhkan untuk memberi pencerahan kepada orang lain.

Kiai Saad menjelaskan, setiap orang islam yang mendapatkan nikmat dari Allah sudah selayaknya wajib mengingat kepada Rasulullah karena hakekatnya beliaulah yang berperan dalam nikmat itu.

“Sebab Rasulullah kita bisa tahu syariat Islam, bisa tahu caranya bersyukur. Maka di situ lah kenapa kita harus banyak-banyak mengingat Rasulullah,” tandasnya.

Kiai Saad kemudian menjelaskan ungkapan Imam Fakhruddin Al-Faiz yang menyebut Al-Qur'an merupakan obat yang dahsyat. Untuk itu, Al-Qur’an harus dibawakan oleh dokter yang cerdas. Siapa itu? Tidak lain adalah Nabi Muhammad SAW.
 
Kiai Saad mengibaratkan ada orang sakit kemudian masuk apotek tetapi tidak paham kadar obat yang pas. Maka yang terjadi adalah overdosis. “Begitu juga jika ada orang menyampaikan Al-Qur’an, tetapi tidak sambung kepada Rasulullah, maka bisa jadi juga ia overdosis sehingga perilakunya tidak mencerminkan akhlak Al-Qur’an,” jelasnya.

“Bukan salah Al-Qur’annya, tetapi karena ia tidak merasa diarahkan oleh Rasulullah sebagai dokter yang amat cerdas dan mengerri kadar obat itu tadi,” imbuhnya. (Farid/Muiz)