::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ketum PBNU: Kalau Belum Paham Agama, Jangan Coba-coba Bicara Agama

Ahad, 17 Maret 2019 08:30 Nasional

Bagikan

Ketum PBNU: Kalau Belum Paham Agama, Jangan Coba-coba Bicara Agama
Ketum PBNU di Pelantikan PCNU Kota Bekasi
Bekasi, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengutip ungkapan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur bahwa suatu saat nanti akan bermunculan banyak orang yang bukan alumni pesantren tetapi berani berbicara tentang agama.

Hal tersebut diungkapkan dalam Pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bekasi di Gedung NU Centre El-Sa’id, Jalan Bambu Kuning 200, Sepanjangjaya, Rawalumbu, pada Jumat (15/3) siang. 

Menanggapi tema Perkuat Khidmat Jam’iyah, Wujudkan Bekasi Sebagai Kota Aswaja, Kiai Said mengungkapkan bahwa tidak mudah untuk menjadi sebuah daerah menjadi Kota Aswaja. Salah satu kuncinya adalah harus menjadi orang cerdas, seperti Imam Syafi’i.

“Aswaja itu didirikan oleh ulama-ulama cerdas, maka NU Kota Bekasi juga harus cerdas dan jenius. Contohlah Imam Syafi’i yang cerdas dan jenius itu,” katanya.

Ia mengatakan bahwa semua penulis yang meneliti atau memperhatikan tentang peradaban Islam pasti menulis tentang Imam Syafi’i sebagai orang yang kecerdasannya tak lagi diragukan.

“Cerdasnya itu, beliau Imam Syafi’i meletakkan pondasi, metode, atau manhaj yang tidak ada di agama lain. Kemudian beliau juga memiliki cara bagaimana mengambil teks dari kitab suci,” jelas Pengasuh Pesantren Luhur Al Tsaqafah, Jakarta ini.

Kiai Said menjelaskan bahwa seluruh ayat yang terdapat di dalam kitab suci Al-Qur’an tidak hanya satu tipe, tapi bermacam-macam. Di antaranya ayat mutasyabihat, muthlaq, haqiqi, majazi, muqayyad, dan khashshash.

“Contoh ayat mutasyabihat itu seperti bagaimana bersenggolan yang membatalkan wudhu kepada yang bukan mahram. Ayat-ayat seperti ini di kalangan ulama terjadi perbedaan pendapat,” jelas Kiai Said.

Kemudian lanjutnya, ada ayat muthlaq. Seperti perintah untuk taat kepada Allah dan Rasulullah. Tetapi juga ada ayat muqayyad (dengan syarat), yakni perintah untuk menaati pemerintah. “Taat kepada pemerintah wajib, tapi bersyarat,” katanya.

Selain itu, terdapat ayat haqiqi dan ada pula yang tidak haqiqi yakni majazi atau metafor. Seperti ayat yang menyatakan bahwa seluruh yang ada di muka bumi akan hancur kecuali wajah Allah. Lalu ayat yang mengatakan, tangan Allah berada di atas orang-orang kafir.

“Artinya itu bukan tangan, tapi ketetapan,” katanya.

Kiai Said melanjutkan, ada juga ayat khusus, contohnya barangsiapa keluar dari rumah ikut berperang, membunuh dan terbunuh, maka akan langsung masuk ke dalam surga.

“Ini ayat khusus ketika sedang perang, jangan dibaca ketika damai. Maka jangan sembarangan bicara sama agama, karena untuk bisa bicara tentang agama haruslah orang-orang yang cerdas,” kata kiai kelahiran Cirebon ini.

Ia menganalogikan, jika dirinya telah menyelesaikan membaca buku tentang kedokteran, maka apa jadinya kalau langsung memasang papan pengumuman membuka praktik. “Nah ini juga sama, kamu yang belum paham agama jangan coba-coba bicara agama,” pungkasnya. (Aru Elgete/Muiz)