::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Usai Dilantik, Ini yang Akan Dilakukan PCNU Kota Bekasi

Ahad, 17 Maret 2019 10:00 Daerah

Bagikan

Usai Dilantik, Ini yang Akan Dilakukan PCNU Kota Bekasi
Pelantikan PCNU Kota Bekasi, Jabar
Bekasi, NU Online
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bekasi masa khidmat 2018-2023 telah resmi dilantik, di Gedung NU Centre El-Sa'id, Jalan Bambu Kuning 200, Sepanjangjaya, Rawalumbu, pada Jumat (15/3).

Sekretaris PCNU Kota Bekasi Ustadz Ayi Nurdin mengungkapkan bahwa tema Perkuat Khidmat Jam'iyah, Wujudkan Bekasi Sebagai Kota Aswaja merupakan bagian dari cerminan pengurus baru.

“Tema itu bagian dari cerminan pengurus NU Kota Bekasi yang ingin mengoptimalkan kita (PCNU) ke depan, yakni soal bagaimana Bekasi ini bisa menjadi basis Ahlussunnah wal Jama’ah,” ungkapnya kepada NU Online, Sabtu (16/3).

Ia juga telah mengukur basis Ke-NU-an di Bekasi hari ini yang masih dalam tataran NU kultur atau yang biasa dikenal dengan NU amaliyah, terutama warga Bekasi yang belum cukup sampai pada fikrah (pemikiran) ke-NU-an.

“Jadi kalau bisa kita bilang, NU Bekasi di atas 50 persen lebih berbasis kultur. Bisa ditanya, Muhammadiyah bukan, disebut Persis bukan, tapi kalo diaku NU pasti bilang iya, meskipun mereka bukan (tidak mengenal) NU," katanya.

Artinya lanjut Ayi, saat ini NU di Bekasi masih di dalam tataran kultur. Hal tersebut menjadikan PCNU Kota Bekasi memiliki program ke depan untuk menjadikan warga NU paham terhadap fikrah NU, bukan hanya amaliyah saja. "(Dan) itu harus dilakukan dengan mengidentifikasi simbol-simbol NU. Seperti simbol NU di masjid, lembaga pendidikan, dan pesantren," katanya.

Dikatakan, hingga saat ini sebagian besar masjid di Kota Bekasi dibangun karena ada kesamaan soal tradisi ke-NU-an yang sudah dilakukan selama ini. 

"Masjid itu bisa menjadi juga (pusat penyebaran) fikrah NU dan bahkan kita perlu meningkatkan masjid itu dari sekedar NU fikrah menjadi NU harakah (pergerakan). Kemudian pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan," jelas pria yang akrab disapa Kang Ayi ini.

Ke depan, Lanjut Kang Ayi, PCNU Kota Bekasi harus bisa menghadirkan fikrah (pemikiran) NU ke masjid-masjid dan lembaga pendidikan yang mulai terpapar ideologi takfiri-wahabi.

"Maka, prioritas PCNU Kota Bekasi adalah melakukan ideologisasi keaswajaan dan ke-NU-an kepada masyarakat," jelas Sarjana Hukum jebolan UIN Sunan Gunung Djati, Bandung ini.

Kang Ayi juga mengatakan bahwa sebenarnya PCNU telah memiliki program atau metode untuk menanggulangi warga NU Bekasi yang selama ini ahistoris terhadap Aswaja.

"Pertama secara formal, yakni melalui diklat yang sudah disediakan NU secara kelembagaan. Ada Madrasah Kader NU, tapi ketika bicara Madrasah Kader itukan waktunya lama, maka kita juga akan bikin kaderisasi tersendiri," tuturnya.

Dikatakan, PCNU sudah merumuskan soal penyelenggaran tentang pendidikan Aswaja atau Madrasah Aswaja yang waktunya hanya sebentar tapi memberikan pemahaman keaswajaan secara komprehensif.

"Pesertanya kita ambil dari pengurus masjid dan mushala yang ada di kampung-kampung. Sehingga rumah ibadah kita di Kota Bekasi tidak ada lagi ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan Aswaja An-Nahdliyah," jelas Kang Ayi.

Selain itu, PCNU Kota Bekasi akan memberdayakan Lembaga Takmir Masjid (LTM) dan Lembaga Dakwah (LD) NU untuk mengadakan program yang sifatnya bukan hanya sekadar seremoni belaka. "Artinya, melalui LD dan LTMNU, kita adakan program ideologisasi, bukan lagi seremoni," katanya.

Ia menginginkan kepengurusan NU Kota Bekasi yang baru dilantik ini melakukan ideologisasi agar mampu hadir di semua lini kehidupan masyarakat.

"Kita harus berpikir bagaimana caranya ideologisasi itu bisa menyentuh semua lini kehidupan masyarakat yang hari ini mengaku NU, tapi hanya sebatas amaliyah saja, sedangkan fikrah dan harakahnya beda," pungkas Kang Ayi. (Khaifah IP/Aru Elgete/Muiz)