::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ini Tiga Ciri Khas Pendiri NU dalam Berjuang di Jamiyah

Senin, 25 Maret 2019 13:30 Daerah

Bagikan

Ini Tiga Ciri Khas Pendiri NU dalam Berjuang di Jamiyah
Rombongan PWNU Jatim silaturahim di makam KH Nachrowi Thohir.
Malang, NU Online
Pengurus Wilayah NU Jawa Timur menggelar napak tilas ziarah ke makam pendiri atau muassis NU. Ada enam kota yang menjadi tujuan para pengurus NU Jawa Timur di antaranya Surabaya, Jombang, Bangkalan, Situbondo, Pasuruan dan Malang. 

Malang menjadi lokasi pertama yang dikunjungi PWNU Jawa Timur dalam momentum hari lahir ke-96 NU. “Di Malang ini terdapat makam KH Nachrowi Thohir, salah satu pendiri NU dan pernah menduduki jabatan Ketua Umum PBNU 1946 hingga 1948,” kata KH Romadhon Khotib, ketua rombongan ziarah zona Malang, Ahad (24/3). 

Menurutnya, ziarah dan napak tilas pada pendiri NU ini sangat diperlukan untuk menyambung silaturahim baik lahiriah atau batiniah. Pada tahun ini, memang banyak sejarah yang mulai ditemukan. “Ini pertama kali dalam harlah ke-96 PWNU Jatim menggelar ziarah ke makam Kiai Nachrowi Thohir,” ungkapnya.  

Wakil Katib PWNU Jawa Timur ini mengatakan kiai NU semasa perjuangannya selalu meminta petunjuk kepada Allah. Ada tiga hal yang dilakukan muassis NU dalam memperjuangkan bangsa dan negara ini. Pertama, selalu melaksanakan shalat istikharah untuk meminta petunjuk. 

“Istikharh selalu menjadi landasan dalam melangkah,” jelasnya.

Setelah melaksanakan istikharah, masyakhih NU tidak lantas memutuskan sendirian, melainkan terlebih dahulu dimusyawarahkan bersama para kiai lain. "Itulah ciri kedua," tegasnya.

Dan ketiga, kalau apa yang diangan berhasil sesuai harapan, kiai NU tidak pernah sombong, pamer atau menceritakan kepada masyarakat luas apa yang telah diraihnya. “Inilah yang sulit ditiru pada masa sekarang,” tegasnya. 

Bahkan untuk menjaga keikhlasan itu, para kiai tidak pernah menceritakan kepada siapapun, termasuk kepada keluarga, anak, suami dan cucu-cucunya.

“Hal itu ditunjukkan oleh almagfurllah Kiai Nachrowi Thohir yang tidak pernah menceritakan peran dan kiprahnya di NU,” pungkasnya. (Rof Maulana/Ibnu Nawawi)