::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Sayangkan Kasus Pengeroyokan, IPNU Minta Aktifkan Organisasi Siswa

Rabu, 10 April 2019 13:00 Nasional

Bagikan

Sayangkan Kasus Pengeroyokan, IPNU Minta Aktifkan Organisasi Siswa
Aswandi, Ketum PP IPNU
Jakarta, NU Online
Peristiwa pengeroyokan seorang siswi SMP oleh 12 siswi SMA di Pontianak, Kalimantan Barat, merupakan tindakan keji yang memilukan dunia kepelajaran masa kini. 

Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) menyayangkan kejadian tersebut. Kasus demikian tak henti-hentinya terjadi di kalangan pelajar. Apalagi kekerasan ini dilakukan oleh 12 siswi SMA kepada seorang siswi SMP.

“Kita sangat menyayangkan kejadian ini. Sudah banyak kasus bullying dan kekerasan pelajar dan kita merasa ini adalah salah satu kejadian yang sangat memilukan,” kata Ketua Umum PP IPNU Aswandi Jailani, Rabu (10/4).

Menurutnya, kehidupan remaja seharusnya diisi dengan kegiatan-kegiatan positif yang mendukung potensi mereka sebagai generasi masa depan. Terlebih saat ini sudah memasuki era globalisasi yang sangat kompetitif.

“Membentuk lingkaran-lingkaran teman sebaya yang positif perlu dilakukan. Selain OSIS ada juga organisasi-organisasi pelajar di luar sekolah yang lebih dapat berperan memberikan ruang aktualisasi untuk pelajar dan juga saling mengingatkan,” ujarnya.

Tindak kekerasan ataupun bullying yang kerap kali dilakukan oleh sejumlah pelajar harus segera dihentikan melalui aktifitas-aktifitas positif. Pasalnya tindakan tersebut merupakan tindakan yang tidak produktif dan negatif.

"Tidak ada keuntungannya sama sekali, malah kerugian bagi korban dan pelaku itu sendiri. Menang jadi arang, kalah jadi abu," katanya sembari mengutip peribahasa.

Peristiwa ini menurutnya, menjadi pelajaran penting untuk ke depannya. Organisasi ekstrakurikuler di sekolah harus terus diaktifkan sebagai langkah pencegahan kasus serupa terjadi lagi.

Di samping itu, untuk kasus ini, IPNU meminta Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) untuk dapat mendampingi korban agar lekas pulih secara fisik dan mentalnya.

“Kita berharap KPAI melakukan pendampingan kepada korban agar korban cepat pulih, baik secara fisik maupun secara mental, sehingga tidak menimbulkan trauma yang mengganggu tumbuh kembangnya remaja tersebut,” ucap pria asal Jambi itu.

Selain itu, Kepolisian setempat juga harus bertindak tegas memberikan sanksi yang setimpal kepada pelaku yang sudah secara terencana melakukan tindakan kejinya itu.

"Kita juga berharap pihak kepolisian dapat memberikan hukuman kepada para pelaku dengan tidak mengorbankan masa depan mereka,” pungkasnya. (Syakir NF/Muhammad Faizin)