::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Menjawab Tudingan Miring kepada Ahlussunnah wal Jama’ah

Rabu, 10 April 2019 20:15 Pustaka

Bagikan

Menjawab Tudingan Miring kepada Ahlussunnah wal Jama’ah
Mayoritas umat Islam Indonesia, bahkan dunia, adalah penganut paham Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). Oleh KH M Hasyim Asy’ari, dalam kitab Risalah-nya, kelompok Aswaja diidentifikasikan sebagai pengikut Asy’ariyah-Maturidiyah dalam bertauhid (teologi), pengikut Mazhab Empat (Maliki, Hanafi, Syafi‘i, dan Hanbali) dalam berfiqih, dan pengikut al-Imam Junaid al-Baghdadi serta al-Imam Abul Hasan As-Syadzili dalam bertasawuf. 

Paham Aswaja ini memiliki prinsip ajaran tanzih—menyucikan Allah dari sifat menyerupai makhluk, tidak mudah menuduh kafir, serta menghormati dan mengapresiasi tradisi lokal selama tidak menyalahi ketentuan nash (syariat Islam). Ajaran-ajaran Aswaja telah mengakar kuat dalam keseharian masyarakat Muslim Indonesia dalam beragam ekspresi: haul, manaqiban, tahlil, maulid Nabi, hingga praktik ke-thariqat-an. 

Di penghujung abad ke-19 dan awal abad ke-20 M, umat Islam digemparkan dengan munculnya paham puritan Wahabi di Semenanjung Arab. Pengaruhnya meluas hingga ke Indonesia. Paham yang dirintis oleh Muhammad bin Abdul Wahab an Najdi (1703-1791 M) ini mengusung ajaran 3 T: Tajsim/Tasybih (antromorfis; meragakan atau menyerupakan Tuhan dengan wujud dan sifat-sifat makhluk), Takfir (memvonis kafir dan sesat kelompok di luar mereka), dan Tabdi‘ (memvonis bid’ah semua praktik yang tidak ada presedennya dari Nabi). 

Ulama Indonesia pun dibuat gusar, tak terima atas tudingan kafir, syirik, bid’ah, sesat yang dialamatkan pengikut Wahabi atas mereka. Maka berhimpunlah ulama Indonesia berpaham Aswaja ini dalam berbagai ormas ke-Islam-an: Nahdlatul Ulama (NU), Nahdlatul Wathan, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), Al Jam’iyah Al Washiliyah, dan Mathla’ul Anwar. Ormas-ormas Islam ini hadir sebagai reaksi atas menguat dan menyebarnya pengaruh ajaran Wahabi di Indonesia. Selain itu, gerakan ta’lif (kepenulisan) juga massif bermunculan. Karya-karya berbahasa Arab, Indonesia, dan daerah (Jawa, Sunda, dll) ramai ditulis. Tujuannya adalah untuk menguatkan dan memantapkan aqidah Aswaja sekaligus membantah ajaran sesat Wahabi. Misalnya Risalah Ahlissunnah karya KH M Hasyim Asy’ari, al-Nusus al-Islamiyah fir Raddi ala Madhhab al-Wahhabiyah karya KH Muhammad Faqih Maskumambang, Hujjah Ahlis Sunnah Wal Jama’ah karya KH Ali Maksum, Khazanah Aswaja karya Tim Aswaja Center NU Jatim, dan lain-lain. 

Buku berjudul Argumen Ahlussunnah wal Jama’ah: Jawaban Tuntas atas Tudingan Bid’ah dan Sesat karya Abu Abdillah dan Nur Rohmad adalah upaya meneladani jejak para ulama Aswaja di negeri ini yang telah mewariskan banyak karya seperti di atas. Menurut mu’allif-nya, buku yang kali ketiga dicetak ini dirasa perlu ditulis meskipun sudah ada karya-karya sejenis sebelumnya. Alasannya: buku yang dibubuhi pengantar oleh KH Ma’ruf Khozin, Direktur Aswaja Center NU Jatim, ini menitikberatkan pada beberapa hal, antara lain: [1] menyertakan dalil-dalil yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah; [2] menguraikan masalah dari akar permasalahannya dan merumuskan jawaban sesuai dengan kaidah-kaidah yang disepakati oleh para ulama; [3] dilengkapi dengan bantahan atas beberapa syubhat (propaganda) Wahabi yang dikutip dari karya-karya mereka secara langsung; [4] menyajikan kaidah-kaidah yang sangat bermanfaat dalam membantah golongan Wahabi (hal. 379-380).

Hemat penulis, kekuatan buku Argumen Ahlussunnah wal Jama’ah ini terletak pada tiga aspek. Pertama, ditulis oleh orang yang ahli (pakar) di bidangnya. Mu’allif-nya, Abu Abdillah dan Nur Rohmad, adalah alumnus pesantren yang telah menekuni kajian Aswaja puluhan tahun. Keduanya memperoleh pengetahuan Islam melalui talaqqi (belajar langsung berhadap-hadapan) kepada para ulama yang memiliki sanad keilmuan bersambung (muttasil) sampai Rasulullah. Selain aktif di NU, keduanya juga aktif mengelola Yayasan Syahamah, suatu lembaga yang concern bergerak di bidang pengembangan dan penguatan dakwah Ahlussunnah wal Jama’ah. 

Kedua, selain mengetengahkan argumen-argumen naqliyah (tekstual) dan aqliyah (rasional) atas keabsahan tradisi Aswaja (tawassul, tabarruk, tahlil, dan lain-lain), buku ini menyertakan kaidah-kaidah usul fiqih penting dalam ber-istidlal (cara menggunakan dalil) dan istinbath (menggali hukum). Misalnya kaidah: tarku ash-syai’ la yadullu ala man‘ihi (tidak melakukan sesuatu, tidak menunjukkan bahwa sesuatu itu terlarang), dan al-am yu’mal bih fi jami’i juz’iyatihi (dalil yang umum itu diterapkan dalam semua bagian-bagiannya). Dua kaidah ini dapat digunakan menghantam tudingan bid’ah Wahabi yang mengharamkan berbagai tradisi Islam lokal dengan dalih: tidak pernah dicontohkan Nabi, atau tidak ada dalilnya. Kaidah-kaidah ini menjadi instrumen penting dalam membingkai cara berpikir (manhaj al-fikr), bagaimana semestinya dalil itu dipahami dan disimpulkan. Dengan memahami kaidah tersebut, pembaca akan mengetahui betapa rapuhnya argumentasi kaum Wahabi.

Ketiga, di bagian Appendiks, pembaca akan disuguhi data-data ilmiah tentang aqidah mayoritas ulama Indonesia: Allah ada tanpa tempat dan arah, Allah tidak dapat dibayangkan, dan kalam Allah bukan berupa huruf, suara, dan bahasa (hal. 335-357). Menyusul segmen tanya jawab seputar aqidah dengan topik-topik penting seperti sifat-sifat ke-Tuhan-an, dan bantahan atas syubhat-syubhat Wahabi. Semuanya disajikan dengan bahasa singkat, lugas, dan to the point

Dengan segala kelebihan yang dimiliki, buku yang juga dipengantari oleh KH Abdul Hannan Ma’shum, Pengasuh Pesantren Fathul Ulum Kwagean Kediri, ini sangat layak dibaca, khususnya bagi mereka yang meragukan keabsahan aqidah dan amaliah Aswaja yang telah mentradisi dan mengakar kuat di Indonesia. Membaca buku ini, anda akan berkesimpulan bahwa tudingan bid’ah dan sesat Wahabi atas penganut paham Ahlussunah wal Jama’ah adalah sama sekali tidak berdasar. Para aktivis Aswaja wajib memiliki dan mengkaji buku ini agar tidak gagap menghadapi syubhat kaum Wahabi.[]


Peresensi adalah Miftakhul Arif, Pengajar Aswaja di MA Unggulan KH. Abd. Wahab Chasbullah Bahrul Ulum Tambakberas Jombang

Identitas Buku
Judul : Argumen Ahlussunnah Wal Jama’ah: Jawaban Tuntas atas Tudingan Bid’ah dan Sesat
Penulis : Abu Abdillah dan Nur Rohmad
Penerbit         : Pustaka Ta’awun
Tebal : xxiv + 397 = 421 hlm. 
Edisi : Cetakan III (Maret 2019)