::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Begini Cara Mengenali Hoaks

Ahad, 14 April 2019 00:30 Nasional

Bagikan

Begini Cara Mengenali Hoaks
ilustrasi (Kompas.com)
Jakarta, NU Online
Seseorang bisa tahu sebuah cerita, namun belum tentu tahu bagaimana kebenaran dari cerita tersebut. Mengutip perkataan novelis Meksiko, Carlos Fuentes, I know the story but I dn’t know the truth, Manajer konten Islami.co, Dedik Priyanto mengatakan di era media online saat ini tidak semua yang tersaji di internet itu benar. 

Ketidakbenaran sebuah informasi di internet bukan berarti hal itu sebagai hoaks. Dedik menyebutkan misalnya kata-kata politisi, "Lima tahun lagi saya akan membangun patung Pancoran dengan motif lain."

"Lalu lima tahun berlalu dan tidak ada pembanguanan. Itu bukan hoaks, itu janji politisi," kata Dedik pada Diskusi Tangkal Hoaks yang diadakan Kopri PB PMII, Kamis (11/4) lalu.

Dedik menegaskan, ciri-ciri hoaks yang utama adalah sengaja dibuat untuk menjatuhkan. Salah satu sumber informasi palsu dan menyesatkan adalah situs-situs abal-abal yang memproduksi informasi semata-mata demi uang.

Karena itu, Dedik menyarankan agar ketika membuka internet, jangan langsung percaya informasi yang ditampilkan. "Cek ulang, apakah ada nama dan siapa pembuat beritanya," ujarnya.

Portal abal-abal biasanya tidak mencantumkan nama penulis atau redaksi misalnya. Walapun mereka menggunakan nama yang identik dengan Islam, hal itu untuk menggoreng sentimen agama di hadapan publik.

Fenomena Istilah Hijrah

Dedik juga menyebutkan Indonesia semakin konservatif dengan ditandai munculnya istilah-istilah seperti hijrah. Berdasarkan riset terdapat situs populer Islam.

Situs-situs tersebut, jika dicermati dapat digolongkan menjadi tipe. Pertama, ultrakonservatif misalnya kewajiban perempuan itu di rumah. Kedua, Islam garis keras, radikal.Ketiga, media dengan tanda-tanda mengusung Islam kebangsaan.

Penggunaan istilah yang mendekati Islam, padahal tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam dilakukan, karena fakta atau objektif tidak lebih penting daripada emosional seseorang.

"Ini era ketika hasil kerja jurnalistik tidak dipercaya daripada emosi seseorang. Data lebih tidak bisa diterima daripada sisi kedekatan atau emosional seseorang. Di sinilah post truth mulai bekerja dan membodohi kepala publik, akhirnya hoaks lebih mudah diterima," paparnya.

Hal yang harus dilakukan untuk menghadapi persoalan tersebut, kata Dedik, kita adalah leader yang bisa mempengaruhi melalui konten, dan mengorganisasi masa dengan tindakan nyata. Misalnya, dari grup WA keluarga, sehingga lambat laut mereka akan menyadari bahwa berita hoaks itu salah.

"Creating more contens exploring platform organizing people and actions; Menciptakan lebih banyak konten di banyak platform yang akan mengatur orang dan tindakan," tegasnya. (Kendi Setiawan)