::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ingin Keluar, Muslim Rohingya di Tahanan Saudi Mogok Makan

Kamis, 18 April 2019 16:30 Internasional

Bagikan

Ingin Keluar, Muslim Rohingya di Tahanan Saudi Mogok Makan
Foto: rohingyavision.com
Jeddah, NU Online
Para pengungsi Rohingya yang ditahan di pusat tahanan Shumaisi Jeddah, Arab Saudi, melakukan aksi mogok makan. Mereka menolak makan dan mendesak otoritas Ssaudi agar membebaskan mereka dari pusat tahanan itu. Aksi ini menjadi yang ketiga kalinya dalam beberapa bulan terakhir. Akibatnya, tujuh orang Rohingya harus dilarikan ke rumah sakit setelah menggelar aksi mogok makan tersebut pada Selasa (16/4) malam. 

Koordinator Kampanye untuk Koalisi Rohingya Bebas Ro Nay San Lwin mengatakan, aksi mogok makan dimulai sejak Sabtu (13/4) lalu. Meski demikian, dia menyebut kalau aksi pemogokan masih berlanjut di 10 kamar tahanan meski ada tujuh orang yang harus dibawa ke rumah sakit.

Dilaporkan bahwa sekitar 650 laki-laki etnis Rohingya ditahan di pusat tahanan Shumaisi di Jeddah sejak 2012 silam. Mereka ditahan karena tidak memiliki dokumen yang valid dan lengkap. “Polisi imigrasi melecehkan mereka, (mereka) mengatakan jika Anda (tahanan Rohingya) terus melakukan mogok makan, kami bahkan tidak akan memberi Anda air," kata Lwin dalam sebuah wawancara telepon dari Frankfurt, Jerman, seperti dikutip laman Aljazeera, Kamis (18/4).

"Mereka tidak melakukan kejahatan. Satu-satunya kejahatan mereka karena dianggap tak punya dokumen lengkap dan lalu mereka ditahan," tambahnya.

Sementara Ketua LSM Dewan Rohingya Eropa (ERC) Ambia Perveen, berdasarkan video yang diterimanya, menyebutkan bahwa polisi telah mengambil kasur, bantal, selimut, dan kebutuhan lainnya tahanan Rohinya di Shumaisi.

Sejumlah pengungsi Rohingya memasuki wilayah Arab Saudi pada 2012 lalu untuk mencari kehidupan yang lebih baik, menyusul kekerasan yang terjadi di kampung halaman mereka, di Negara Bagian Rakhine, Myanmar. Banyak dari mereka memasuki Arab Saudi dengan visa haji atau umrah, tetapi mereka kemudian tinggal lebih lama untuk bekerja. Mereka ditahan di berbagai pos pemeriksaan imigrasi dan selama razia. (Rred: Muchlishon)