::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Syariat dan Hakikat Harus Diamalkan secara Seimbang

Sabtu, 20 April 2019 23:45 Nasional

Bagikan

Syariat dan Hakikat Harus Diamalkan secara Seimbang
Tangerang Selatan, NU Online
Ketua Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (MATAN) DKI Jakarta KH Ali M Abdillah mengatakan, ketika seseorang mempelajari syariat maka sudah seharusnya dia juga belajar tentang hakikat. Mengapa? Keduanya harus satu kesatuan, tidak bisa dipisah-pisahkan.

Menurut Kiai Ali, kalau seseorang hanya mempelajari syariatnya saja maka ia akan mudah mengkafirkan karena mengkaji agama secara ‘tekstual’. Begitu pun sebaliknya, jika seseorang hanya mempelajari agama saja maka mereka akan menjadi zindik (orang yang tersesat imannya.

Menurut Pengasuh Pengasuh Pesantren al-Rabbani Islamic College itu, hal itu sudah pernah terjadi pada masa Raden Ngabehi Rangga Warsita. Ketika itu, Raden Rangga Warsita mengkaji dan mengamalkan syariat dan hakikat secara seimbang. Namun para pengikutnya salah memahaminya, sehingga hanya mengamalkan hakikatnya saja dan meninggalkan syariat. 

"Padahal Raden Rangga Warsita menyeimbangkan keduanya, baik syariat maupun hakikat," ungkap Kiai Ali dalam diskusi di Sekretariat Islam Nusantara Center (INC), Tangerang Selatan, Sabtu (20/4).

Akibatnya, imbuh Kiai Ali, para penganut Raden Rangga Warsita tidak shalat lagi karena menganggap itu tidak diperlukan lagi. Mereka meninggalkan ibadah syariat dengan dalih bahwa dirinya sudah mengakui keberadaan Allah. 

"Semisal sudah tidak diperlukannya shalat, sebab dirinya sudah mengakui keberadaan Tuhan," paparnya. 

Oleh karenanya, keduanya harus dijalankan secara bersamaan. Tidak bisa bisa dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya. Karena menurut Kiai Ali, keduanya harus satu kesatuan. (Nuri Farihatin/Muchlishon)