::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Terima Anugerah Tokoh Perubahan, Ini Program Unik Yenny Wahid

Kamis, 25 April 2019 06:00 Nasional

Bagikan

Terima Anugerah Tokoh Perubahan, Ini Program Unik Yenny Wahid
Yenny Wahid bersama para tokoh dan pejabat negara
Jakarta, NU Online
Upaya Yenny Wahid dalam memimpin The Wahid Foundation diapresiasi keluarga besar Republika. Selama ini, pihaknya konsisten mempromosikan toleransi dan perdamaian. Selain itu juga melakukan sejumlah aksi mulai riset, diskusi, hingga memberi pelatihan untuk para pemuda.

“Agar mereka memiliki kemampuan menciptakan konten-konten media sosial untuk menangkal hoaks. Kami juga punya program unik di mana kami mencoba untuk membuat kohesi sosial di tingkat akar rumput di desa-desa. Yaitu sebuah program bernama desa damai (peace village),” ungkapnya. 

Dalam program ini, lanjut dia, pihaknya memberikan akses permodalan dan ekonomi kepada ibu-ibu dari berbagai suka bangsa, budaya, dan agama di desa-desa. "Hingga kini, sebanyak 30 desa sudah berpartisipasi dalam program ini," ujar putri kedua Presiden keempat RI KH Abdurrahman Wahid ini.

Menurut dia, program yang sudah ada sejak 2012 ini memiliki empat pilar. Pertama, pilar penguatan ekonomi dalam arti memberi akses permodalan dan pelatihan ekonomi kreatif. Kedua, pilar penguatan peran perempuan. Ketiga, pilar penguatan aparatur daerah dan desa. Keempat, penguatan nilai-nilai toleransi di tengah masyarakat.

Bagi Yenny, penganugerahan tokoh perubahan dari Republika menjadi momen kebahagiaan. “Sebab, apa yang kami lakukan ternyata diapresiasi. Dan itu melengkapi momen-momen kecil kebahagiaan kami,” ujarnya disambut aplaus hadirin. 

Misalnya, saat Ibu Munah, salah seorang perempuan binaan The Wahid Foundation yang dulu rumahnya hanya beralaskan tanah. “Sekarang bisa membangun rumah senilai 60 juta rupiah. Dulunya hanya jualan sayur, kini jadi manajer dari One Laundry, sebuah usaha komunitas yang dikelola bersama,”  ungkapnya.

Yenny menambahkan, kebahagiaan kecil lainnya adalah ketika Bu Anita yang dulunya terkucil dari para tetangga gegara perbedaan keyakinan, sekarang rumahnya menjadi tempat berkumpulnya warga untuk menjalani pelatihan ekonomi bersama.
 
“Atau, Bu Hasbiyah yang ada di Sumenep yang ringkih, berani melerai dua orang dewasa yang terlibat percarokan. Inilah kebahagiaan kecil kami dalam membangun kohesi sosial di masyarakat,” terangnya.

Ia berharap, apa yang telah dilakukan timnya di WF bisa teramplifikasi secara lebih luas. Program tersebut, lanjut dia, telah dilirik dan diapresiasi beberapa lembaga internasional. Salah satunya dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) melalui UN Woman.

Perempuan bernama lengkap Zannuba Arifah Chafsoh ini menambahkan, untuk ke depannya, program desa damai ini sudah diminta PBB untuk diperkenalkan di Afrika. Jadi, nama Indonesia juga bisa berkibar di benua lainnya.

“Terakhir, saya ajak kita semua untuk rukun dan guyub. Bukan kembali bersatu. Sebab, kalau bersatu nomor dua nanti nggak mau. Maka, rukun dan guyub saja sebagai bangsa,” pungkas Yenny. (Musthofa Asrori)