::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

HARLAH KE-69 FATAYAT NU

Fatayat NU: Tugas Tokoh Agama Tebarkan Perdamaian

Kamis, 25 April 2019 08:35 Nasional

Bagikan

Fatayat NU: Tugas Tokoh Agama Tebarkan Perdamaian
Syukuran Harlah Fatayat NU, Rabu (24/4).
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Fatayat NU, Anggia Ermarini kembali menyerukan ajakan kepada para tokoh lintas agama agar menyerukan kepada para jamaahnya untuk tetap menjaga perdamaian bangsa. Selain itu sekat-sekat perpecahan yang sempat marak di tengah masyarakat akibat perbedaan pilihan, harus dihilangkan.

Ajakan itu ia sampaikan pada syukuran Harlah ke-69 Fatayat NU yang diadakan di Gedung PBNU Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, Rabu (24/4).

Pada acara yang diadakan secara sederhana itu, Anggia menyebutkan wabah most-truth atau pandemi irasionalitas saat ini marak berkembang di masyarakat. Hal itu terlihat dari fenomena bahwa banyak orang yang lebih mempercayai keyakinannya sendiri daripada fakta di lapangan.

"Maka, ini menjadi tugas para tokoh agama untuk memberi pencerahan pada pengikutnya," kata Anggia. 

Di sisi lain, Anggia turut menyikapi wacana evaluasi total yang diarahkan kepada KPU oleh beberapa pihak. Pasalnya, penyelenggaraan pemilu serentak tahun ini dianggap belum maksimal sehingga menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

"Kalaupun ada yang mengajukan wacana itu (evaluasi total) ya wajar saja apalagi ini pemilu serentak pertama. Tapi menurut saya tidak tepat kalau menggunakan istilah evaluasi total, di beberapa poin memang ada yang kurang tapi tidak semuanya," imbuhnya.

Secara umum Anggia menilai pelaksanaan pemilu sudah berjalan baik sesuai undang-undang dan peraturan yang ada. Evaluasi yang dimaksud tentu pada hal-hal yang dinilai banyak kekurangan saja, bukan pada seluruh aspek misal penambahan jumlah tenaga KPPS.

"Sehingga tidak sampai kehabisan tenaga dan berakhir pada hal-hal yang tidak diinginkan. Kalaupun nanti ada sistem baru untuk pemilu berikutnya, pasti masih ada saja pihak yang tidak setuju," kata Anggia. 

Pada kesempatan tersebut Anggia juga berpesan kepada siapa pun presiden yang nantinya terpilih agar semakin fokus pada permasalahan perempuan dan anak.

"Beberapa masalah pelik yang masih belum terselesaikan di antaranya tentang woman trafficking, perkawinan anak, tingginya angka stunting, dan masih banyak lagi," kata Anggia.

Dari sisi perekonomian Anggia melihat ada banyak potensi perempuan yang dapat dikembangkan.

"Over all, kami Fatayat NU dan tokoh lintas agama di sini sangat berharap para paslon yang telah ikut berkontestasi mau dan mampu mengendalikan para pendukungnya, menebarkan lagi nilai-nilai perdamaian," kata Anggia.

Oleh karena itu, Anggia juga mendukung upaya rekonsiliasi kedua pihak yang berlawanan dalam pemilu 17 April 2019 lalu. "Ayo rekonsiliasi sebagai saudara sebangsa setanah air," pungkasnya.

Pada harlah tersebut hadir Ketua Umum Fatayat NU 2000-2005 dan 2005-2010 Hj Maria Ulfah Anshor, Persatuan Gereja Indonesia (PGI), Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Komunitas Wanita Hindu Darma Indonesia (WHDI) Ahmadiyah, Kopri PB PMII, dan PP IPPNU. (Kendi Setiawan)