::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

TWEET TASAWUF

Keutamaan Seseorang yang Mempunyai Ilmu Bermanfaat

Kamis, 25 April 2019 19:00 Nasional

Bagikan

Keutamaan Seseorang yang Mempunyai Ilmu Bermanfaat
Ilustrasi (ist)
Jakarta, NU Online
Salah satu keutamaan ilmu yang bermanfaat ialah mampu mengantarkan seseorang menuju Allah SWT. Limpahan ilmu yang bermanfaat juga menjadi bekal berharga ketika seseorang telah meninggal. Karena amal jariyahnya akan terus mengalir sebab ilmunya diamalkan tanpa henti.

“Ilmu yang manfaat, senantiasa menghantar menuju Allah. Ilmu apapun itu,” jelas Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor, Jawa Barat KH M. Luqman Hakim dikutip NU Online, Kamis (25/4) lewat twitternya.

Berarti, imbuh Kiai Luqman, seorang ulama atau pun ilmuwan harus membawa obor cahaya dari limpahan Cahaya Allah.

“Jika tidak, Anda hanya akan tersesat pada permainan logika yang Anda duga sebagai kebenaran final. Jadinya kepala batu,” tegas Direktur Sufi Center itu.

Menurut Kiai Luqman, sehebat apapun ilmu pengetahuan manusia, hanyalah manifestasi atau perwujudan dari konfirmasi-konfirmasi kebenaran dari Allah. Bukan sebagai tandingan Ilmu Allah.

Jika terjadi keserasian, semata karena manusia menggunakan metode ketuhanan, yaitu agama. "Maka agama diturunkan agar manusia berserasi dengan Allah,” ungkap penulis buku Jalan Hakikat ini.

Kiai Luqman menjelaskan beberapa poin tentang kebenaran ilmu di antaranya, pertama, kebenaran ilmu bisa bermanfaat (bagi yang beriman), juga bisa jadi siksaan bagi orang yang kafir.

Kedua, kebenaran ilmu bisa jadi cahaya bagi yang menuju Allah, bisa juga akan membakar dirinya bagi yang menuju dunia. Ketiga, kebenaran ilmu bisa menanjakkan derajat iman, bisa juga menghinakan nafsu manusia. (Fathoni)