::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Materi Ajaran Rasulullah saat Dakwah di Makkah

Jumat, 26 April 2019 06:00 Sirah Nabawiyah

Bagikan

Materi Ajaran Rasulullah saat Dakwah di Makkah
Mula-mula Rasulullah mendakwahkan Islam secara sembunyi-sembunyi kepada sanak keluarganya. Sedikit demi sedikit jangkauan dakwahnya diperluas hingga ke kerabat dan tetangganya. Kemudian setelah turun perintah Allah maka Rasulullah mendakwahkan Islam kepada masyarakat Makkah secara luas dan terang-terangan.

Banyak penduduk Makkah yang menentang dan memusuhi dakwah Rasulullah pada masa-masa awal. Ada banyak alasan dan motif yang mendasari mengapa mereka tidak mau menerima Islam. Mulai dari masalah teologi, kedudukan sosial, pengaruh hingga masalah ekonomi. Mereka khawatir jika masuk Islam maka apa yang mereka miliki itu akan lenyap. 

Mereka juga menunjukkan permusuhan yang nyata pada masa-masa awal Islam. Berbagai macam cara mereka tempuh untuk menghentikan dakwah Islam yang dibawa Rasulullah. Mulai dari penyiksaan, ancaman pembunuhan, hingga tawaran harta benda. Semua upaya telah dilakukan kafir Makkah, namun tidak berhasil. Rasulullah tetap saja mendakwahkan Islam di Makkah hingga 13 tahun lamanya, meski nyawanya dan nyawa umatnya menjadi taruhannya.

Lantas, apa saja yang didakwahkan Rasulullah selama 13 tahun di Makkah? Merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad saw. dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018), Rasulullah menekankan pada sisi kepercayaan selama berdakwah di Makkah. Ada dua sisi kepercayaan yang menjadi titik berat Rasulullah.

Pertama, kepercayaan tentang keesaan Allah. Pada saat itu, masyarakat Arab dijangkiti ‘penyakit syirik.’ Mereka tidak lagi menyembah Allah Yang Satu sebagaimana yang diajarkan nabi dan rasul terdahul, akan tetapi mereka menyembah banyak berhala. Jadi mereka menyembah apa yang mereka buat sendiri. Memang ada orang yang menyembah Allah Yang Satu (hanif), namun jumlahnya tidak banyak dan mereka ‘tidak memiliki kekuatan’. Oleh sebab itu, Rasulullah menyerukan kepada masyarakat Makkah untuk kembali ke ajaran tauhid. Menyembah hanya satu Tuhan, Allah.  

Salah satu strategi Rasulullah ketika menyerukan tauhid kepada masyarakat Makkah adalah dengan mengajak mereka untuk memperhatikan alam raya dan keteraturannya. Merujuk pada QS. Al-Anbiya’ ayat 22, Rasulullah menjelaskan kepada mereka bahwa kalau seandainya di dunia dan langit ada tuhan-tuhan selain Allah, maka keduanya tentu hancur berantakan. Sementara untuk mengajak mereka meninggalkan sesembahannya, Rasulullah mengingatkan bahwa berhala yang mereka sembah tidak memiliki kekuatan apapun. 

“Hai manusia, telah dibuatkan perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” (QS. Al-Hajj: 73)

Kedua, kepercayaan hari akhirat. Selama di Makkah, materi lain yang ditekankan Rasulullah adalah soal hari kiamat, kebangkitan manusia setelah kematian, dan hisab (pertanggungjawaban amal selama hidup di dunia). Di dalam dakwahnya, Rasulullah menyebutkan beberapa ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengan kebangkitan setelah kematian dan hari kiamat. Namun kafir Makkah tetap tidak mau percaya. Mereka malah menuntut Nabi Muhammad saw. agar menghidupkan kembali nenek-moyang mereka yang sudah meninggal. Mereka juga menuntut untuk diberi tahu tentang kedatangan hari kiamat. Mereka mengacuhkan bukti-bukti yang dipaparkan di dalam Al-Qur’an.

Diantara orang yang tidak percaya akan hari kebangkitan adalah Ubay bin Khalaf dan al-Ash bin Wail. Mereka berkeyakinan bahwa kebangkitan setelah kematian adalah sesuatu yang tidak logis dan menganggap hal itu khayalan belaka. Bagi mereka, kehidupan hanya ada di dunia ini saja.

Di samping dua hal di atas, ajakan untuk berbudi pekerti luhur dan membantu yang lemah juga menjadi materi yang ditekankan Rasulullah selama berdakwah di Makkah. Itulah materi ajaran yang menjadi inti dari dakwah Rasulullah di Makkah. Penolakan dan penentangan tidak membuat Rasulullah mundur dan berhenti untuk mendakwahkan Islam bagi masyarakat Makkah. (Muchlishon)