::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kampanye Damai di Kalangan Milenial dengan Game

Jumat, 26 April 2019 02:05 Nasional

Bagikan

Kampanye Damai di Kalangan Milenial dengan Game
Sumber: Wahid Foundation
Jakarta, NU Online
Perubahan modus gerakan kelompok pro-kekerasan dan terorisme dari cara konvensional ke digital menempatkan anak muda menjadi sangat rentan. Sebab secara demografis, generasi millenial mendominasi ruang maya yang kerap mengandung konten kampanye pesan pro-kekerasan.Kelompok radikal terorisme kerap menjadikan ruang siber sebagai arena penyebaran propaganda, indoktrinasi hingga rekrutmen.

Akan tetapi, pola berpikir ini bisa dibalik 180 derajat dengan menjadikan anak muda yang tadinya rentan menjadi milenial cerdas yang mengampanyekan pencegahan terhadap konten kekerasan dan radikalisme dengan bahasa milenial. 

Karena karakter dunia maya yang tak terbatas pada sebuah kawasan atau borderless, gerakan kampanye digital di dunia maya memiliki peluang besar untuk menjadi gerakan global. Untuk itu dibutuhkan kolaborasi yang baik di antara anggota generasi baik pada level nasional, regional hingga global.

"Pertama harus bisa menjangkau lebih banyak karena arus radikalisme dan propaganda ekstremisme itu sangat cepat dan banyak,” ujar Irfan Amalee, Peace Generation Indonesia di Jakarta, Kamis (25/4).

Gerakan ini, lanjut Irfan, sangat memungkinkan untuk dikerjakan, mengingat sosial media membuka kesempatan yang sangat besar untuk melakukan kolaborasi dalam level yang lebih luas.

Namun gerakan ini menuntut peningkatan kualitas dan kemampuan generasi muda sendiri dalam berkolaborasi dan membuat konten yang mudah diterima, baik dalam bentuk gambar, tulisan, video, maupun game. Kualitas ini sangat penting karena penerimaan masyarakat bergantung pada kualitas konten yang dibuat. 

“Konten yang dibuat harus bagus kualitasnya, metode, dan harus kreatif. Sekarang eranya 'visual is the king'. Kalau gambar atau videonya biasa aja dan gak menarik, pasti tidak ada yang mau melihatnya,” ungkapnya.

Ia menceritakan bahwa organisasinya, Peace Generation lebih banyak berkampanye tentang kebaikan melalui platform game. Membuat konten dalam game dipilih Peace Generation dengan pertimbangan bahwa game itu bisa lebih cepat menarik perhatian anak muda, terutama jika game tersebut menarik dan menantang.

Gerakan ini dipilih organisasinya sebab meyakini bahwa kelompok milenial dekat dengan game. "Mau aplikasi apa saja sudah digemifikasi. Game itu sudah jadi bahasa muda. Game itu  sebenarnya pola pembelajaran atau penularan gagasan dengan pengalaman, jadi bukan dengan pengajaran bukan dengan ceramah,” papar Irfan.

Game bisa menjadi metode yang sangat baik untuk melakukan kampanye pada kalangan millenial. Jika di dalam permainan diselipkan nilai kebaikan seperti toleransi, menghargai perbedaan dan nilai lain secara baik, ia bisa memastikan bahwa bermain game bisa berpengaruh baik pada perubahan di kalangan kelompok millenial. 

Selain Peace Generation, organisasi Wahid Foundation juga menggunakan metode  serupa yakni game untuk mengampanyekan toleransi. WF memiliki boardgame yang diberi nama 'Negeri Kompak'. Permainan yang menyerupai ular tangga ini dikemas sedemikian rupa sehingga menanamkan nilai toleransi pada anak-anak yang memainkannya. 

Permainan ini mengetengahkan nilai-nilai positif dalam kehidupan seperti kejujuran, cinta, perawatan, kasih sayang, keterbukaan, komitmen, integritas, dan lain-lain, melalui permainan yang menghibur. (Ahmad Rozali)