::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Relasi Kiai-Santri

Jumat, 26 April 2019 20:15 Opini

Bagikan

Relasi Kiai-Santri
ilustrasi kiai
Oleh: Wildan Rifqi Asyfia

Pondok pesantren sebagai pusat studi Islam klasik merupakan salah satu bentuk dari kearifan lokal (local wisdom) dari sekian banyak khazanah warisan budaya Islam Nusantara. Secara harfiah pesantren berarti lembaga pendidikan Islam tradisional untuk mempelajari, memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran agama Islam (tafaqquh fiddin) dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman hidup bermasyarakat. Concern pesantren sesuai visinya adalah mencetak kader-kader andal yang siap memenuhi kebutuhan masyarakat. Lebih dari itu pesantren mengharapkan setiap anak didiknya menjadi seorang Insan Kamil, manusia paripurna yang memiliki budi pekerti luhur; tidak meresahkan masyarakat dan barang tentu hubbul wathon, mencintai tanah airnya dengan sepenuh hati dan segenap jiwa raga mereka.

Jika disebuah universitas orang akan mengenal istilah dosen-mahasiswa, dalam sistem pendidikan pesantren kita akan dikenalkan dengan istilah kiai-santri. Sekilas mungkin keduanya akan terlihat sama, kiai guru, dosen juga guru; mahasiswa murid, santri juga murid. Namun, pada kenyataannya istilah yang digunakan mempunyai perbedaan yang begitu mendasar, jika dosen hanya diposisikan sebagai pengajar yang apabila setelah jam pelajarannya selesai maka tugasnya pun selesai. Hal ini berbeda jauh dengan kiai, hubungan kiai dengan para santri tidaklah sesimpel dosen dengan mahasiswa. Kiai diposisikan bukan hanya sebagai pengajar, namun juga sebagai pendidik spiritual para santri yang didalamnya terdapat hubungan istimewa yaitu hubungan yang dijiwai oleh semangat nasyrul ilmi yang sama-sama akan mereka emban untuk misi dakwah islamiah, menyebarkan Islam yang rahmatan lil alamin, di mana para santri mendapat pengajaran tentang akidah, adab (tata krama), dalil-dalil agama agar mereka siap untuk menghadapi lika-liku kehidupan dunia.

Beberapa perbedaan kecil antara kaum akademisi dan pesantren dapat kita lihat bahwa sebelum mengajar, seorang kiai dan para santrinya bersama-bersama mendoakan guru-guru mereka dengan harapan supaya silsilah sanad keilmuannya bisa selalu on time terkoneksi dengan baik dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat serta kebaikan hidup dari apa yang akan mereka pelajari. Ritual semacam ini mungkin jarang terlaku, bahkan bisa jadi tidak akan kita temukan disekolah-sekolah umum maupun diuniversitas-universitas ternama sekalipun. Jika yang ditinjau aspek materi, kebayanyakan para kiai tidaklah digaji atau tidak ada yang menggaji, namun ‘profesinya’ itu tetap dilakukan dengan ikhlas tanpa pamrih, sebab, disamping merupakan panggilan keberagamaan dan bentuk ketaatan terhadap doktrin nilai-nilai ajaran agamanya juga merupakan wujud kepeduliaannya kepada masyarakat.

Relasi antara kiai dengan santri tak terhenti sampai di situ. Seorang kiai akan menjadi pelindung bagi mereka, sementara para santri secara gotong royong membantu keperluan dan kebutuhan hidup sang kiai, misalanya dengan mengerjakan sawah dan tanah ladang kiainya. Dukungan ini terjadi di samping karena figur sang kiai yang telah mendapatkan pengakuan secara penuh, juga dikarenakan mereka merasa berhutang budi atas bimbingan dan kebaikan sang kiai, atau dalam istilah santri mereka anggap hal itu sebagai wujud khidmah mereka kepada guru. Hal semacam ini, ikut andil dalam menciptakan suasana ikatan kekeluargaan yang kuat di antara mereka. Hingga saat ini banyak sekali pondok pesantren yang masih melestarikan perilaku ini. Sehingga, meskipun sang kiai mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, terkadang pula mendapat sumbangsih dari hasil bumi atau bentuk lainnya dari keluarga para santri dan masyarakat sekitar yang berkecukupan secara ekonomi.

Karenanya, dapat dipahami, jika hubungan mereka tidak lantas terputus seusai seorang santri menyelesaikan masa pendidikan. Tidak ada mantan murid, pun tidak ada mantan kiai. Inilah prinsip yang selama ini dipegang di kalangan pesantren, hubungan seorang santri dengan gurunya di pondok pesantren akan terus bertahan sampai akhir hayat kehidupannya dan tidak bisa diputuskan oleh apa pun juga. Guru adalah guru dan murid adalah murid, inilah realitas yang berlaku di dunia pesantren. 

Maka, seringkali seorang kiai dilibatkan sebagai pertimbangan utama sekalipun dalam hal-hal yang sangat pribadi. Misalnya tentang keputusan memilih pekerjaan, begitu percayanya seorang santri dengan konsep barakah. Maka tidak sedikit seorang santri meminta petunjuk dan doa restu tentang pekerjaan yang baik untuknya. Tentang keputusan memilih calon istri atau calon suami, seringkali para kiai menjadi 'mak comblang; untuk para santrinya dengan orang lain. Malahan, kiai sendiri kadang yang melamarkan untuk santrinya. Tentang pemberian nama bagi putra-putri santrinya, kai juga sering dilibatkan. Mereka yakin bahwa nama seseorang akan banyak berpengaruh dengan masa depannya kelak, begitu juga dari siapa nama itu diberikan. Dengan meminta kiai memilihkan nama pada anak mereka, para alumni yakin bayi mereka akan mengalami nasib yang baik. Begitu pun ketika terjadi konflik keluarga, kiai sering kali diminta untuk menjadi penengah dalam menyelesaikannya.

Melihat sejarahnya, relasi kiai-santri bukan merupakan suatu hal yang aneh, hubungan ini sudah lama terlaku. Kesakralannya membawa hubungan batiniah yang begitu kuat dan menjadi suatu chemistry tersendiri bagi keduannya. 

Ketika Indonesia masih berjuang melawan penjajah, banyak kita temukan seorang kiai menyerukan perlawananan, mengobarkan semangat nasionalisme, dan mengangkat senjata bersama-bersama dengan para santrinya. Bukti nyata atas hal tersebut yakni terbitnya Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy’ari yang berisi seruan wajib bagi seluruh penduduk Indonesia yang berada pada jarak masafatul qosri untuk berjihad melawan para penjajah. Dampaknya, dengan berbondong-bondong para santri menyambut seruan itu. Mereka berlomba menjadikan diri mereka sebagai seorang santri yang sami’na watha'na, mendengar dan siap melaksanakan setiap apa yang diperintahkan sang guru. Maka, tak heran jika ada seorang kiai yang sekaliber Mbah Kiai Abdul Karim saat menjelang wafatnya, yang ia  inginkan hanyalah supaya bias diakui sebagai santri Si Mbah Kiai Kholil Bangkalan. Karena bagi diri para santri, pengakuan seorang kiai atas kesantriannya adalah suatu harga mati yang amat begitu sakral demi terjalinnya hubungan batiniah mereka dengan sang guru.

Kalau kita cermati secara mendalam, hubungan santri dengan kiai adalah hubungan yang saling melengkapi (komplementer). Ibarat sebuah bangunan, maka kiai sebagai pondasinya dan para santri sebagai tubuh bangunannya itu sendiri. Karena kiailah yang meletakan dasar-dasar pengetahuan dan amaliahnya, sedangkan para santri yang melajutkan dasar-dasar tersebut

Pada akhirnya, potret tersebut melahirkan statement bahwa hubungan kiai dan santri tidak lagi sebatas murid dengan guru. Namun, bertransformasi lebih kedalam sebuah hubungan 'batiniah ideologis' yang mengimplementasikan bentuk dan nila-nilai pendidikan seumur hidup (long life education). Karena dalam hubungan silaturahim yang mereka bagun dan rawat, di dalamnya ada semangat tetap saling belajar, transformasi tata nilai, transformasi budaya dan tradisi keagamaan.

Wildan Rifqi Asyfia, seorang santri asal Majalengka, Jawa Barat, saat ini berdomisili dalam rangka rihlah ilmu di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur.Jejaknya bisa dilacak melalui akun IG @dhan.ra__ atau FB Asyfia Munawwir.