::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

KH Ahmad Dahlan Ahyad dan Tashwirul Afkar

Senin, 29 April 2019 15:00 Fragmen

Bagikan

KH Ahmad Dahlan Ahyad dan Tashwirul Afkar
KH Ahmad Dahlan Ahyad merupakan salah seorang generasi awal Nahdlatul Ulama (NU). Ia bersama KH Wahab Hasbullah mendirikan Tashwirul Afkar (potret pemikiran, diterjemahkan oleh KH Abdul Mun’im Dz sebagai kebangkitan pemikiran) pada tahun 1918. Tashwirul Afkar adalah sebuah forum diskusi untuk merespons berbagai isu aktual yang dihadapi masyarakat waktu itu. Khususnya di kota Surabaya dan sekitarnya. 

Pada masa itu, Wahabi sedang agresif melakukan gerakan antimazhab, bid’ah, syirik, khurafat terhadap praktik-praktik keagamaan Ahlussunah wal Jamaah di masyarakat yang sudah berlangsung sejak berabad-abad. Padahal praktik-praktik tersebut ada dalilnya. Sementara dalam konteks kebangsaan waktu itu adalah masa penjajahan Belanda. Penjajahan yang tentu saja menyengsarakan masyarakat dalam berbagai hal. 

Tashwirul Afkar, sesuai namanya, di dalam forum tersebut berkumpul para kiai pesantren. Tidak hanya yang muda, melainkan tua yang memiliki semangat sama yaitu menjaga Ahlussunah wal Jamaah. Salah satu kegiatannya adalah menjawab persoalan-persoalan yang dituduh kelompok modernis sebagai bid’ah, syirik, khurafat tersebut. 

Sejak didirikan pada tahun 1918 hingga tahun 1929, nama yang tertulis di papan pengenal adalah Suryo Sumirat Afdeeling Taswirul Afkar. Ini menunjukkan bahwa, secara organisatoris pada awal mula Taswirul Afkar tidak berdiri sendiri. Tapi, merupakan bagian dari Suryo Sumirat. Sementara Suryo Sumirat sendiri adalah sebuah perkumpulan yang didirikan oleh anggota perhimpunan Budi Utomo yang ada di Surabaya. Hal ini sekadar untuk  mempermudah mendapatkan izin dari pemerintah Hindia Belanda. Sehingga cara ini ditempuh dengan menjadikan Taswirul Afkar bagian dari Suryo Sumirat.

Karena itu, tidak heran jika Dr. Soetomo, seorang nasionalis pendiri Budi Utomo (20 Mei 1908), kemudian Indonenesische Studieclub (1924), justru banyak bergaul dengan ulama-ulama muda seperti KH Wahab Hasbullah dan KH Mas Mansur.

Pada perkembangan selanjutnya, Tashwirul Afkar tidak hanya sekadar forum diskusi, tapi lembaga pendidikan. Menurut Ensiklopedi NU, pada tahun 1919,Tashwirul Afkar menjadi madrasah yang bertempat di Ampel. KH Ahmad Dahlan Ahyad ini yang kemudian dipercaya sebagai ketuanya. Madrasah ini merekrut para murid di Surabaya bagian utara. Sementara itu, kegiatan forum diskusi antara kiai muda dan kiai tua yang membahas masalah keagamaan waktu itu tetap berlangsung.  

Peran KH Ahmad Dahlan Ahyad dalam pengembangan Tashwirul Afkar kurang mendapat tempat dalam sejarah. Padahal menurut Wasid Mansyur (Biografi KH Ahmad Dahlan Ahyad; Aktivis Pergerakan dan Pembela Ideologi Aswaja, 2017, Pustaka Idea, Surabaya) di samping tokoh-tokoh lain, ia adalah kiai yang mengupayakan izin dari pemerintah Hindia Belanda tersebut agar bisa beroperasi secara resmi. Para santrinya di Kebondalem diizinkan menjadi murid Tashwirul Afkar sehingga memancing para orang tua di sekitarnya untuk belajar di madrasah tersebut. 

Masih menurut Wasid Mansyur, pada tahun 1920-an, Tashwirul Afkar merupakan satu-satunya madrasah yang didirikan kalangan pesantren di Kota Surabaya yang menggunakan sistem berjenjang. Perkembangan ini merupakan prestasi awal dari para kiai yang kelak bakal mendirikan NU di kota sama pada 1926.

Sekilas KH Ahmad Dahlan Ahyad 
KH Ahmad Dahlan Ahyad lahir di pada 30 Oktober 1885 bertepatan dengan 13 Muharam 1303 H di Kebondalem Surabaya, sebelah timur makam Sunan Ampel, Raden Rahmat. Ia adalah putra keempat dari enam bersaudara dari pasangan KH Muhammad Ahyad dengan Hj Nyai Mardliyah. 

Dari garis ayahnya, silsilah KH Ahmad Dahlan Ahyad merupakan turunan ketujuh dari Syekh Sulaiman Mojoagung. Dengan demikian silsilahnya terhubung kepada Sunan Gunung Jati Cirebon, Syekh Syarif Hidayatullah. Pasalnya Syekh Sulaiman merupakan putra dari Syekh Abdurrahman Asy-Syaibani yang menikah dengan Nyai Syarifah Khadijah yang merupakan putri dari Sultan Hasanuddin Banten. Sementara dari pihak ibunya, KH Ahmad Dahlan Ahyad, Hj Nyai Mardliyah, merupakan adik kandung pengusaha KH Abdul Kahar, seorang kiai yang merupakan saudagar yang dekat dengan kiai-kiai pendiri NU. (Abdullah Alawi)