::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

'Hati Suhita' Dibedah di Krapyak

Senin, 29 April 2019 08:00 Nasional

Bagikan

'Hati Suhita' Dibedah di Krapyak
Bedah novel 'Hati Suhita' di Pesantren Krapyak, Sabtu (27/4)
Yogyakarta, NU Online
Novel karya Khilma Anis, Hati Suhita akhirnya dibedah di Pondok Pesantren Krapyak, Yayasan Ali Maksum, Yogyakarta, Sabtu (27/4). Hadir pada kesempatan tersebut sang penulis novel, Khilma Anis; Pengasuh Pesantren Krapyak, Maya Fitria; dan Subkhani Kusuma Dewi dari Litbang PW Fatayat NU DIY.

Acara bedah buku ini sebelumnya juga telah dilangsungkan di UIN Sunan Kalijaga dan. IIQ An-Nur Yogyakarta yang bekerjasama dengan PW Fatayat DIY.

Khilma Anis merupakan penulis yang lahir dari pesantren. Ia alumni santri Krapyak, tujuh tahun mondok di komplek Gedung Putih Pondok Krapyak Yayasan Ali Maksum. Tulisan-tulisannya memfokuskan pada tema pesantren, perempuan, dan budaya Jawa. Ini merupakan wujud mempertahankan budaya menulis dan sastra pesantren. Hati Suhita ini bukan novel pertama, karena sudah ada beberapa novel Khilma Anis sebelumnya, seperti Jadilah Purnamaku, Ning, dan Wigati.

Novel ini menjadi menarik di kalangan pesantren, terlebih kalangan santri putri. Karena kisah-kisah yang dihadirkan dengan tokoh utama santri putri, juga sangat mewakili kisah yang relasi dengan mereka. Bahkan bisa dikatakan jarang santri putra yang tertarik dengan kisah-kisah seperti ini, dengan bukti acara bedah buku di Pondok Krapyak hanya sedikit santri putra yang hadir. Padahal, santri putri yang hadir tidak hanya dari Pondok Krapyak Ali Maksum dan Almunawwir, melainkan ada yang dari Nurul Ummah, Al Barokah, dan pesantren-pesantren lain.

Mikul dhuwur mendem jero; adalah ajaran yang identik pada novel ini. "Meskipun tentang pesantren, tetapi tidak terlalu saya perdalam dakwahnya. Karena dakwah tidak melulu soal dalil ayat-ayat. Namun saya di sini membangun dakwah dengan mengangkat budaya dalam pesantren dan budaya jawa. Budaya jawa yang mendominasi pada novel ini adalah ajaran pewayangan. Berbeda dengan novel sebelumya, novel Wigati yang banyak membahas tentang filosofi keris,"papar Khilma Anis memperkenalkan novel terbarunya.

Menurut Subkhani, novel yang bertema pernikahan ini sangat menarik. Terlebih keshalehan diri yang digambarkan pada tokoh-tokoh yang ada dalam novel ini. Meskipun sedikit dilihat nilai konservatisme agama dalam novel ini. Namun tidak hanya sebatas itu, ada tema dan nilai-nilai yang lebih penting dalam novel ini untuk hidup yang harus kita perjuangkan; seperti nilai spiritualitas dalam keaktualan cerita, yang mana setiap orang menuju ke sana.

Keaktualan Hati Suhita ini juga terlihat datang di waktu yang tepat. Ketika isu keluarga sedang memanas muncul di mana-mana, kemudian ia hadir memberikan bacaan bagaimana mempertahankan pernikahan agar tetap utuh. Hal-hal sederhana yang digambarkan pada masing-masing tokoh bisa menjadi panutan bagi hidup kita.
 
"Novel ini juga menarik untuk diperkenalkan kepada santri-santri pesantren modern, di mana mereka mungkin kurang memahami istilah-istilah dalam novel ini yang berlatar belakang pada pesantren salafi, istilah seperti tabarukan, yang mungkin praktiknya sama namun istilahnya berbeda, atau istilah konseptual seperti tradisi ziarah, ini  adalah kesempatan untuk mengenalkan istilah-istilah dan tradisi yang demikian kepada mereka," imbuh Subkhani.

Ibu Nyai Maya Fitria, selaku pengasuh Pondok Pesantren Krapyak memberikan pernyataan yang cukup menarik. "Gara-gara novel ini yang dulu masih rilisnya di facebook, Bu Nyai-Bu Nyai Krapyak sampai buat grup whatsapp khusus untuk posting tulisan  cerita bersambung Hati Suhita ini. Karena ceritanya menarik dan juga ini untuk menumbuhkan budaya membaca kami," ujarnya.

Menurutnya Hati Suhita mampu menggambarkan bagaimana dalam lingkup pesantren, terdapat norma-norma dan nilai yang mengikatnya. "Dalam novel ini juga ada tanggung jawab sosial yang ditawarkan oleh penulis. Seperti hikmah yang dapat diambil dari tokoh-tokohnya, yaitu menjadi orang yang bisa mengontrol diri dan  menjadi orang yang bisa bertanggungjawab," pungkasnya. (Lulu'il Maknun/Kendi Setiawan)