::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Antara Bakti kepada Sang Ibu dan Punya Istri Muda

Senin, 29 April 2019 18:00 Hikmah

Bagikan

Antara Bakti kepada Sang Ibu dan Punya Istri Muda
Ilustrasi (BBC)
Pagi itu Pak Fulan dipanggil ibunya – sebut saja Bu Basuki.  Ada persoalan penting yang akan dibicarakan sang ibu bersama  Pak Fulan sehubungan aduan istri Pak Fulan dan anak-anaknya bahwa Pak Fulan telah memiliki istri muda.  Sang ibu sangat sedih mendengar aduan itu karena berpengaruh langsung terhadap kebahagiaan cucu-cucunya serta seorang ibu yang telah melahirkan dan membesarkan  mereka.

“Kemarin istri dan anak-anakmu datang kemari. Mereka menangis sesunggukan mengapa kamu diam-diam menikah lagi. Benar kamu menikah lagi?” tanya Bu Basuki kepada Pak Fulan yang seorang saudagar kaya raya itu. 

“Benar, Bu,” jawab Pak Fulan jujur. 

“Aku memanggilmu kemari  bukan untuk mengajakmu berdebat soal apa hukum poligami. Terus terang, di antara semua anakku, aku menilai kamu adalah anak paling berbakti. Tapi aku sangat sedih kamu punya istri lagi. Sebagai sesama perempuan aku bisa merasakan betapa hancur hati istrimu. Sebagai seorang nenek, aku tak tega melihat cucu-cucuku menangis meratapi nasib ibunya yang dimadu.”

Pak Fulan diam seribu bahasa. Ia memang tak terbiasa membantah kata-kata ibunya. Apa yang diperintahkan ibunya ia jalankan, dan apa yang dilarangnya ia tinggalkan. Bakti Pak Fulan kepada ibunya tak ada yang meragukan. Semua orang tahu itu. Mungkin berkat itulah, Pak Fulan selalu sukses dalam setiap bisnisnya. 

“Saya mohon maaf Bu atas pernikahan kami yang kedua secara diam-diam,” kata Pak Fulan pelan sambil menundukkan kepala. 

“Tidak cukup kamu minta maaf. Kamu juga harus menceraikan istri mudamu,” jawab Bu Basuki tegas. 

“Tetapi kamu tidak boleh menceraikannya begitu saja. Kamu harus memberikan kompensasi yang pantas agar ia tetap memiliki masa depan yang baik. Aku juga perempuan dan bisa membayangkan betapa sakitnya dicerai. Tapi menurutku, itu risiko perempuan mau dijadikan istri kedua.” 

Beberapa hari kemudian Pak Fulan benar-benar menceraikan istri mudanya yang dinikahinya setahun silam dan belum dikaruniai seorang anak. Mereka telah menyepakati perceraian itu dengan kompensasi yang pantas sebagaimana pesan Bu Basuki. Mantan istri muda Pak Fulan mendapatkan rumah indah yang ia tinggali selama ini beserta seluruh isinya, termasuk sebuah mobil baru. Tidak hanya itu ia juga menerima sejumlah uang yang cukup besar untuk membuka sebuah usaha.  Ia optimistis menatap masa depannya. Ia masih muda. 


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.