::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Gus Mus: Untuk Apa Orang Pintar tapi Tidak Terdidik

Senin, 29 April 2019 15:30 Nasional

Bagikan

Gus Mus: Untuk Apa Orang Pintar tapi Tidak Terdidik
KH Ahmad Mustofa Bisri (foto: ilustrasi)
Jombang, NU Online
Pengasuh Pesantren Raudhatut Thalibin Leteh, Rembang, Jawa Tengah, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) mengajak bersyukur kepada wali santri yang sudah memondokkan putra-putrinya di pesantren. Pasalnya, santri di pesantren tidak hanya dididik menjadi manusia pintar, namun juga berakhlak.

Saat ini menurutnya, banyak orang pintar namun akhlaknya tidak seimbang dengan kepintarannya. "Untuk apa orang pintar tapi tidak terdidik, artinya tidak berakhlak," katanya saat menjadi pembicara pada Haflah Akhir Sanah Pesantren Al-Aqobah Jombang, Jawa Timur, Ahad (28/4).

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini menambahkan, sikap atau perilaku orang pintar yang tidak terdidik kerap ditemui di tengah masyarakat. Seperti mencuri, perilaku korupsi, dan sebagainya. Mereka itu tak jarang dari latar belakang orang-orang pintar.

"Mereka yang pintar tapi tidak terdidik itu juga pintar berkelit. Kalau orang pintar mencuri, tiba-tiba miliaran, itu pun susah  dipenjara, kadang diadili juga sangat susah. Beda dengan orang bodoh jadi maling, itu gampang, nangkapnya gampang, ngadilinya juga gampang," jelas Gus Mus tersenyum.

Dengan demikian, kiai kharismatik itu menegaskan, para kiai pesantren berupaya mendidik santrinya bukan hanya menjadi orang pintar namun juga berakhlak, sehingga terhindar dari perilaku-perilaku kurang terpuji.

Lebih lanjut dijelaskan, pendidikan ala kiai-kiai pesantren juga berbeda dengan pendidikan pada umumnya. Mereka mendidik santrinya secara komprehensif, mulai dari aspek dzahir hingga batinnya. 

"Di pesantren itu cara mendidiknya tidak hanya dzahirnya, tapi juga batinnya. Seperti pengasuh pesantren yang seringkali mendoakan santri-santrinya, di perguruan tinggi tidak ada yang seperti ini," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Muiz)