::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pesan Raja Ali Haji untuk Pemimpin Terpilih

Senin, 06 Mei 2019 07:00 Esai

Bagikan

Pesan Raja Ali Haji untuk Pemimpin Terpilih
Foto: Tirto.id
Oleh: Syakir NF
 
Pemilihan Umum (Pemilu) berlangsung dengan aman, lancar, dan damai. Meskipun demikian, hal tersebut harus mengorbankan lebih dari 400 nyawa para petugas akibat kelelahan karena prosesnya yang cukup panjang.
 
Pemilu telah usai, tinggal menunggu pengumuman pada tanggal 22 Mei 2019 mendatang. Siapapun yang terpilih nanti, baik presiden maupun anggota parlemen nanti, perlu kiranya untuk menyimak pesan begawan bahasa Indonesia, Raja Ali Haji.
 
Sosok sastrawan kelahiran 1808 itu dikenal dengan karya sastranya yang monumental, yakni Gurindam Dua Belas. Gurindam merupakan puisi lama yang satu bait terdiri dari dua baris dengan akhir baris berima aa. Sementara itu, Wilkinson, sarjana Inggris, sebagaimana dikutip oleh Maman S. Mahayana dalam Jalan Puisi dari Nusantara ke Negeri Poci, menyebutkan bahwa gurindam merupakan sesuatu pepatah berangkap yang disebutkan berpadan dengan tempatnya, sedangkan Van Ronkel, sarjana Belanda, menyebut gurindam sebagai seloka (spreukdicht).
 
Raja Ali Haji juga membuat ta'rif, pengertian, sendiri atas bentuk sastra hasil ijtihadnya itu. Ia menyebutkan definisinya tersebut dalam bagian pembuka naskah gurindam 12 yang ia susun, bahwa gurindam adalah perkataan yang bersajak pada akhir pasangannya, tetapi sempurna perkataan dengan satu pasangannya sehingga jadilah seperti sajak yang pertama itu syarat dan syair sajak yang kedua itu jadi seperti jawab. Hal itu penulis temukan dalam Naskah W 233, disalin oleh Afifuddin Ahmad, 1439 H, di Perpustakaan Nasional lantai 9, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta. Sebab, naskah aslinya sudah sangat rusak sehingga pustakawan tidak memperkenankan pembaca mengakses naskah aslinya.
 
 
Gurindam yang ia buat terdiri dari 12 fasal sehingga dikenal dengan sebutan Gurindam Dua Belas. Meski hanya 12 fasal, namun banyak pembahasan yang ditulis oleh peletak tata bahasa Melayu dan Indonesia itu, seperti akidah, syariat, hingga tasawuf. Tema politik juga tidak terkecualikan dalam magnum opusnya itu. Sebab, sebagaimana diungkapkan oleh Abdul Hadi WM, dalam Kembali ke Akar Kembali ke Sumber, bahwa para penulis sufi lazim menyampaikan kritik sosialnya secara halus, namun tajam dan menukik hingga permasalahan.
 
Setidaknya, penulis menemukan empat bait nasihat penting Raja Ali Haji untuk para pemimpin dalam menjalankan roda pemerintahan. Pertama, Raja Ali Haji berpesan agar para pemimpin dapat mengutamakan kepentingan bangsa. Hal ini penting mengingat keterpilihan mereka juga karena rakyat menaruh kepercayaan besar. Dalam Fasal 11, ia menulis bait pertamanya seperti berikut ini.
 
Hendaklah berjasa
Kepada yang sebangsa
 
Bait selanjutnya, sastrawan yang juga ulama itu mengingatkan agar laku positif itu perlu diimbangi dengan tidak melakukan pekerjaan negatif. Sebagai pemimpin, tentu harus mencerminkan dan melakukan hal yang baik untuk bangsanya. Sebagaimana kepala, ia harus mengatur seluruh anggota tubuhnya dengan baik.
 
Hendaklah jadi kepala
Buang perangai yang cela
 
Di samping itu, mengingat kepercayaan merupakan harta yang sangat berharga, maka tidak boleh disia-siakan begitu saja dengan laku dan perangai seperti di atas. Hal tersebut dipertegas oleh pengarang kitab Bustan al-Katibin itu dengan bait berikutnya di pasal yang sama.
 
Hendak memegang amanat
Buanglah khianat
 
Jika hal-hal di atas dapat terlaksana dengan baik, tentu tidak menjadi kebolehan bagi sang pemimpin tersebut untuk bertakabbur bahwa hal itu merupakan lakunya sebagai seorang yang adil, tidak pilih kasih kepada siapapun. Bukan sama sekali. Hal tersebut, kata Raja Ali Haji, merupakan pertolongan dari Allah.
 
Hukum adil atas rakyat
Tanda raja beroleh inayat
 
Meskipun karya sastra ini dibuat sejak lebih dari 100 tahun lalu, tetapi masih sangat relevan untuk konteks saat ini. Karena saat itu konteksnya kerajaan, maka ia menulisnya raja. Ada kemungkinan ia menulisnya presiden jika gurindam tersebut ditulis dalam konteks sekarang.
 

Penulis adalah mahasiswa Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta