::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Di IAIN Pontianak, Pengamat Jelaskan Tantangan Ekonomi Syariah

Senin, 06 Mei 2019 15:00 Daerah

Bagikan

Di IAIN Pontianak, Pengamat Jelaskan Tantangan  Ekonomi Syariah
Seminar nasional di FEBI IAIN Pontianak, Kalimantan Barat.
Pontianak, NU Online
Program Studi Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Pontianak, Kalimantan Barat menggelar seminar nasional bertajuk Prospek dan Tantangan Implementasi Ekonomi Syariah di Era Revolusi Industri 4.0. Seminar berlangsung di aula gedung rektorat kampus setempat, Sabtu (3/5).

Pemateri seminar ini adalah Faisal Basri yang merupakan pengamat ekonomi dan politikus Indonesia. Kemudian Adnan Sharif selaku kepala Sub Bagian Pengawasan Bank 1 Otoritas Jasa Keuangan Kalimantan Barat, dan Fachrurrazi selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Pontianak. Seminar dihadiri mahasiswa dan sejumlah dosen di lingkungan FEBI.

Fachrurrazi mengatakan bahwa tujuan pokok peran perguruan tinggi adalah menjadikan mahasiswa berkualitas. “Dengan adanya seminar diharapkan mampu membuka pemikiran mahasiswa FEBI tentang pospek dan tantangan  ekonomi syariah di era revolusi Industri ini,” katanya. 

Dirinya mengharapkan kegiatan tidak hanya untuk mahasiswa yang terdaftar di FEBI namun untuk semua. “Artinya FEBI datang untuk menjadi solusi perekonomian khususnya di era digital ini,” jelasnya.

Sedangkan Faisal Basri mengemukakan saat ini ekonomi Indonesia mengalami perlambatan dari negara lain. "Negara lain sudah beberapa kali lebih maju namun Indonesia selalu menerapkan alon-alon tapi kelakon. Ini yang membuat pertumbuhan lambat," katanya di hadapan ratusan hadirin.

Ia mengharapkan generasi milenial mampu beradaptasi dengan perkembangan revolusi industri. “Karena setelah 2030 nanti generasi ini juga menanggung beban para orang tua. Dan ekonomi syariah adalah solusi paling tepat untuk mengatasi ketimpabgan karena berdasarkan kemaslahatan dan keadilan tanpa adanya eksploitasi, sehingga perekonomian merata,” ungkapnya.

Lain halnya Adnan Sharif dalam penyampaian materinya menjelaskan tentang peluang financial technologi (fintech) di Kalimantan Barat.  “Bank konvensional lebih maju dari bank syariah karena ditunjang sumber daya manusia lebih kompeten,” tegasnya. 

Menurutnya, saat ini masyarakat lebih banyak menyimpan dana di bank konvensional karena merasa praktis. Tidak perlu pergi ke bank tapi bisa transaksi langsung lewat gawai. “Ini membuktikan bahwa fintech di bank konvensional maju, sedang kalau kita lihat orang ingin nabung di bank syariah harus ngantri panjang karena fintechnya belum maju," ungkapnya.

Dirinya berharap generasi milenial khususnya mahasiswa FEBI dapat melek teknologi agar bisa memajukan ekonomi syariah. “Karena terbukti ekonomi syariah solusi kesejahteraan dan mampu bertahan dari gonjangan ekonomi. Hal ini dibuktikan ketika krisis moneter, ekonomi syariah tidak ikut tumbang,” pungkasnya. (Maulida/Ibnu Nawawi)