::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ini Jalan Ibadah Almarhum Al-Faqih KHM Syafi’i Hadzami

Senin, 06 Mei 2019 14:15 Fragmen

Bagikan

Ini Jalan Ibadah Almarhum Al-Faqih KHM Syafi’i Hadzami
(Foto: @sumur yang tak pernah kering)
"Zulfa, shalat sunahku sedikit. Wiridku sedikit. Puasa sunahku juga sedikit,” kata almarhum KHM Syafi’i Hadzami.

Ia kemudian mengutip satu bait dalam Qashidah Al-Burdah

وما تزودت قبل الموت نافلة # ولم أصل سوى فرض  ولم أصم 

“Tapi moga-moga wiridku dari muda, muthalaah kitab dari jam 10 sampai jam 2 malam, bisa menolongku di akhirat nanti,” kata guru kami KH Syafi’i Hadzami dengan suara lirih.

Larik dalam qashidah ini kalau diterjemahkan berbunyi, “Aku tidak berbekal sebelum meninggal ibadah sunnah#Aku tidak sembahyang selain shalat wajib, dan aku tidak puasa (selain shalat wajib).” 

Kalimat itu terasa seperti baru kemarin mendengarnya. Padahal kalimat ini disampaikan hampir 23 tahun yang lalu saat kami bersilaturahmi di bulan Syawwal.

Kami teringat ucapan dan kerendahan hati guru mulia kami karena nasihat Imam Ibnu Athaillah Al-Iskandari:

تنوعت أجناس الأعمال بتنوع واردات الأحوال

Artinya, "Bermacam-macam jalan ibadah seseorang itu, sesuai dengan keadaan yang datang menghampirinya."

Begitu biasanya para guru mursyid menerjemahkannya. Nasihat di atas diambil dari Kitab Al-Hikam karya Imam Ibnu Athaillah yang biasa kami baca setiap Shubuh Bulan Ramadhan sebagai kajian rutin di masjid dekat rumah.

Secara tidak langsung Ibnu Athaillah mengajak kita untuk tidak rendah diri dan merendahkan orang lain dalam mengukur standar suatu ibadah karena ibadah, jalan menghamba kepada Allah itu banyak. Ibadah ditempuh tidak hanya lewat ibadah jasadiyah atau fisik seperti shalat, puasa, dan lain-lain.

Ibadah dapat berbentuk ibadah aqliyah atau akal misalnya, bertafakur atas kebesaran Allah dalam ayat kauniyah (alam semesta dan kehidupan) yang merupakan ibadahnya para filsuf dan cendekiawan; atau mengkaji dan memahami ayat Allah dalam Al-Quran dan hadits serta menyampaikannya (ibadah para ahli ilmu).

Ibadah dapat juga berbentuk ibadah qalbiyyah atau ibadah hati, misalnya melatih diri untuk ikhlas dan ridha, zuhud terhadap dunia, bersyukur atas nikmat, bersabar dan tidak mengeluh atas keinginan/harapan yang tidak tercapai. Ibadah ini biasanya menjadi concern para ahli tasawuf.

Dari penjelasan di atas kita bisa memahami bahwa jalan untuk ibadah atau mendekatkan diri itu sangat banyak. Siapapun kita, dengan profesi dan latar belakang apapun, bisa menjadi kekasih Allah dengan jalan yang mudah, banyak, dan terbuka lebar tanpa perlu pesimis, rendah diri, atau bahkan merendahkan orang lain atas ibadahnya.

Begitulah kata seorang ulama:

ولكل واحدهم طريق من طرق # يختاره فيكون من ذا  واصلا

Artinya, “Masing-masing hamba boleh memilih jalan ibadah yang Allah mudahkan baginya untuk bisa wushul (sampai menuju Allah).”

Singkat cerita, guru kami berkata, “Banyak wali di luar sana yang kau temui tapi kau tidak pernah menyadarinya bahwa dia adalah kekasih Allah. Karena kau mungkin melihat orang itu hanya tukang sol sepatu, pedagang pasar, guru TPQ/madrasah, kuli bangunan, atau bahkan sopir, tapi mereka menjadi kekasih Allah karena kesabaran, keikhlasan, dan kezuhudannya atau karena yang lainnya yang kau tidak pahami.”

Tulisan ini dibuat pada 1 Ramadhan 1444 Hijriyah/6 Mei 2019 M. Al-Fatihah untuk guru kami, almarhum KHM Syafi’i Hadzami. ***

Almarhum KHM Syafi‘i Hadzami (1931-2006 M) dikenal sebagai ahli agama. Penguasaannya atas sumber-sumber keislaman cukup memadai. Ia bertempat tinggal di Kebayoran Lama Utara sejak tahun 1975. Sebelumnya almarhum KHM Syafi‘i Hadzami sekeluarga tinggal di Senen. Almarhum KHM Syafi‘i Hadzami pernah menjadi Ketua MUI DKI Jakarta dan Rais Syuriyah PBNU 1994-1999 M.

Di usia yang begitu muda, ia sudah mengasuh banyak majelis taklim di seantero Jakarta. Pengajiannya sempat mengudara di radio Cenderawasih dalam bentuk tanya-jawab agama dengan pendengar seputar permasalahan keseharian masyarakat pada 1971 M.

Bentuk audionya lalu dibukukan dengan judul Taudhihul Adillah yang terdiri dari 7 jilid, sejenis Buku Ahkamul Fuqaha, kumpulan putusan keagamaan NU sejak 1926. ***


Penulis adalah turabul aqdam KH Zulfa Mustofa MY, Katib Syuriyah PBNU (2015-2020 M). Ia kini diamanahi sebagai Ketua MUI Jakarta Utara.