::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Soal Kasus Pasuruan, Warga NU Diimbau Tak Terpancing

Selasa, 07 Mei 2019 12:30 Nasional

Bagikan

Soal Kasus Pasuruan, Warga NU Diimbau Tak Terpancing
H Badri Hamidi (paling kiri) bersama Bani Shiddiq di Jember kemarin

Jember, NU Online
Wakil Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama H Badri Hamidi meminta warga NU di Pasuruan, Jawa Timur untuk tetap tenang dan tidak terpancing emosinya menyusul terbitnya kabar terkait pengusiran oleh kelompok tertentu terhadap warga NU ketika akan melaksanakan shalat tarawih di masjid Hidayatullah, Pasuruan, Jawa Timur, belum lama ini. Sebab jika warga NU emosi, kemungkinan terjadi bentrok horizontal sangat besar.

“Jangan terpancing emosi. Hindari terjadinya bentrokan sebisa mungkin. Kedua belah pihak harus dapat menahan diri, apalagi saat ini bulan puasa,” tukasnya kepada NU Online di Jember, Selasa (7/5).

H Badri mengaku belum tahu persis kronologi kejadian tersebut. Namun dari sejumlah portal yang memuat itu, dan video yang beredar di grup-grup WA, diketahui bahwa pengusiran memang  terjadi. Namun hal tersebut tak perlu dibesar-besarkan, dan jika ada hal-hal yang terkait dengan pidana, sebaiknya diserahkan kepada pihak yang berwenang.

“Puasa seharusnya dapat mengontrol emosi kita, nafsu amarah dan nafsu lainnya harus kita lawan,”  lanjutnya.

H Badri juga meminta pemerintah setempat dan tokoh masyarakat untuk melokalisir kejadian  tersebut. Dengan kata lain, pihak yang sengaja mendatangkan jamaah dari daerah lain untuk membantunya dalam kasus itu, harus dilarang dengan tegas.

“Itu berbahaya. Apa jadinya jika pihak seberang juga mendatangkan jamaah dari luar juga. Bahaya,” tegasnya.

Hal yang sama juga diungkapkan A’wan Syuriyah PWNU Jawa Timur, H Babun Suharto. Menurutnya, kejadian itu perlu dicari akar masalahnya agar tidak lestari. Siapa pemilik pertama masjid itu harus ditelusuri, dan harus dikawal oleh pemerintah setempat.

“Namun di atas semua itu, tak boleh ada yang memprovokasi dan terprovokasi. Semuanya harus berpikir dengan sejuk,  lebih-lebih ini bulan puasa,” pungkasnya. (Aryudi AR)