::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Agama dan Negara Saling Membutuhkan

Jumat, 10 Mei 2019 04:30 Daerah

Bagikan

Agama dan Negara Saling Membutuhkan

Jember, NU Online
Ketua PCNU Jember, Jawa Timur KH Abdullah Syamsul Arifin menegaskan bahwa para ulama dan umat Islam sudah merasa nyaman dengan bentuk negara Indonesia saat ini. Namun jika ada pihak-pihak  yang merasa gerah dengan bentuk negara Indonesia (NKRI), sehingga berpikiran untuk mengubahnya dengan negara agama, itu sejatinya tidak paham dengan tujuan Islam.

“Islam tidak pernah menganjurkan untuk membentuk negara agama. Cuma yang penting warga di negara tersebut dapat melaksanakan ajaran agamanya dengan bebas, aman dan damai,” tukasnya saat menjadi nara sumber dalam acara DIAGRA (dialog agama via udara) di masjid Jamik Al-Baitul Amin, Jember, Jawa Timur, Kamis (9/5).

Menurutnya, para ulama tidak pernah mempersoalkan bentuk negara. Namun yang penting negara  memberikan jaminan kepada setiap pemeluk agama untuk mengktualisasikan dan mengamalkan ajaran agamanya serta menjadikan agama sebagai ruh dalam konstruksi kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Negara tersebut  tak lain adalah Indonesia,” lanjutnya.

Dalam konteks keindonesiaan, negara dan agama dalam posisi yang saling membutuhkan. Gus Aab, sapaan akrabnya, lalu menukil kata-kata Imam Al-Ghazali bahwa agama dan negara bagaikan dua saudara kembar yang tidak sempurna salah satunya kecuali dengan yang lain.

“Negara butuh agama, dan agama butuh negara. Jadi hubungannya dibangun dalam konteks simbiosis mutualisme. Penjelasannya, negara butuh agama sebagai inspirasi dalam membangun pilar-pilar negara seperti konsep syura, ‘adalah, egaliter dan sebagainya,” urainya. (Aryudi AR).