::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kiai Said Cerita Hubungan Indonesia-China dalam Penyebaran Islam

Jumat, 10 Mei 2019 04:00 Internasional

Bagikan

Kiai Said Cerita Hubungan Indonesia-China dalam Penyebaran Islam
Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj.
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengemukakan tentang sejarah keterkaitan antara China dan Indonesia dalam tersebarnya Islam.

"Banyak sekali hubungan China yang bersejarah dengan Indonesia," kata Kiai Said saat santunan anak yatim dan buka puasa bersama di Pesantren Luhur Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan, Kamis (9/5) petang.

Menurut Kiai Said, Syekh Hasanuddin yang dikenal dengan Syekh Quro karena suaranya yang sangat merdu ketika membaca ayat suci Al-Qur'an. Syekh Quro merupakan guru Nyai Subang Larang yang mengislamkan Prabu Siliwangi, yang di kemudian hari antara Nyai Subang Larang dan Prabu Siliwangi menjadi suami istri.

"Subang Larang mempunyai anak yang mengislamkan seluruh Jawa Barat, yaitu Prabu Kiansantang," ucapnya.

Kiai Said juga mengemukkan sekelumit kisah perjalanan Cheng Ho. Menurut Kiai Said, pada masa Dinasti Ming, Cheng Ho diutus untuk membangun jalur sutra maritim.

"Pak Jokowi ini kalau membangun tol laut harus meniru dari China yang sudah dilakukan oleh Cheng Ho," kata Kiai Said.

Kiai Said menuturkan bahwa Cheng Ho telah tujuh kali melakukan lawatannya ke Indonesia. Dan dalam salah satu perjalanan yang dilakukan bersama sebuah rombongan, termasuk di dalamnya terdapat anak Kaisar China bernama Putri Ong Tien, menemui Sunan Gunung Jati.

Melihat Putri Ong Tien, membuat Sunan Gunung Jati tertarik, kemudian menikahinnya. Namun, keberadaan Putri Ong Tien tak disukai oleh salah satu istri Sunan Gunung Jati, sehingga membuat Putri Ong Tien pergi dan menetap di Kuningan, Jawa Barat.

Kisah lain yang dikemukakan Kiai Said, ialah tentang Raja Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit. Sebagai seorang raja, ia memiliki banyak istri yang salah satunya beragama Islam, yakni Dewi Sari, perempuan berasal dari Champa. 

Salah satu putra Raja Brawijaya dan Dewi Sari bernama Jin Bun. Namun, Jin Bun diusir dari istana kerajaan karena nakal. Jin Bun pun pergi ke Surabaya, kemudian bertemu Raden Rahmat atau yang lebih dikenal dengan Sunan Ampel. Pertemuan tersebut membuat Jin Bun masuk Islam, lalu namanya diubah menjadi Raden Fatah.

"Setelah lima tahun (belajar ke Sunan Ampel, Raden Fatah) permisi kepada gurunya untuk membangun kerajaan Islam. Maka berdirilah kerajaan Islam pertama di Jawa, yaitu Demak Bintoro," ucapnya.

Raja Brawijaya V pun mendengar kabar tentang Jin Bun atau Raden Fatah yang telah masuk Islam. Lantas Raja Brawijaya V berkomunikasi dengan putra lainnya, yakni Aryadillah, dengan maksud 'curhat' tentang anaknya yang masuk Islam. Namun, Raja Brawijaya V pun dibuat terkejut karena Aryadillah juga telah memeluk agama Islam. Tak hanya itu, rakyat Majapahit juga berbondong-bondong memeluk agama Islam. Melihat fenomena tersebut, akhirnya Raja Brawijaya V ikut menjadi muallaf.

"Dengan masuk Islam-nya Raja Brawijaya V, selesailah riwayat, sejarah kerajaan Majapahit yang pernah luas sampai ke Srilanka, sampai ke Filiphina Selatan, Nusantara ini semua Majapahit," ucapnya.

Akhirnya, kerajaan Majapahit dikuasai Kerajaan Demak tanpa terjadi peperangan atau mengalirkan darah. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)