::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Riyadhah Rohani Para Ulama Hadapi Penjajah

Jumat, 10 Mei 2019 15:00 Fragmen

Bagikan

Riyadhah Rohani Para Ulama Hadapi Penjajah
KH Hasyim Asy'ari (Dok. istimewa)
Salah satu kekuatan mendasar rakyat Indonesia, khususnya di kalangan pesantren ialah spirit batin, menyerahkan sepenuhnya kepada Allah dalam setiap perjuangan melawan penjajah. Para kiai pesantren sadar, perjuangan fisik tidak cukup tanpa disertai upaya batin. Sebab itu, sejarah mencatat bahwa fakta-fakta sejarah di luar nalar manusia pada umumnya tersaji ketika para kiai dan santri berhasil memukur mundur penjajah dengan hanya bermodal bambu runcing dan senjata tradisional lainnya.

Berbagai langkah dan strategi dilakukan walaupun dengan menggunakan senjata tradisional, bambu runcing demi membebaskan rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan untuk mencapai kemerdekaan lahir dan batin.

Bambu runcing, karakternya yang tegak, kuat, gagah, dan tajam tidak lantas membuat para pejuang berhenti berikhtiar untuk mengisi bambu runcing dengan kekuatan doa dari seorang ulama sepuh dari daerah Parakan, Magelang, Jawa Tengah, Kiai Haji Subchi yang pada tahun 1945 telah berusia sekitar 90 tahun.

Choirul Anam dalam Pertumbuhan dan Perkembangan NU (2010) mengungkap, ratusan bahkan ribuan tentara sabil, baik Hizbullah dan Sabilillah juga Tentara Keamanan Rakyat (TKR) selalu membanjiri rumah Kiai Subchi untuk menyepuh bambu runcingnya dengan doa. Bahkan untuk keperluan menyemayamkan kekuatan spiritual ini, Jenderal Soedirman dan anak buahnya juga berkunjung ke rumah kiai yang dijuluki sebagai Kiai Bambu Runcing tersebut.

Upaya batin terus dilakukan oleh para kiai. Di Jombang, di bawah pimpinan Hadhratussyekh KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Chasbullah diselenggarakan Riyadhah-Rohani di kalangan para ulama.

KH Saifuddin Zuhri dalam Guruku Orang-orang dari Pesantren (2001) menjelaskan, Riyadhah-Rohani selain meningkatkan semangat pembelaan tanah air, juga untuk mengamalkan beberapa wirid. Hizbur Rifa’i, Hizbul-Bahr, Hizbun Nashr, Hizbun Nawawi, Hizbus Saif, doa lainnya dipompakan dalam Riaydhah yang berbentuk Latihan Rohani itu.

KH Saifuddin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren (2013) juga mencatat bahwa kiai-kiai dari Jombang, Gresik, Pasuruan dan dari sekitar Surabaya menyerang musuh sambil meneriakkan doa-doa dalam sejumlah hizib. Pertama kali dalam sejarah perang di Indonesia melawan penjajah, kalimat takbir, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar bershut-sahutan dengan letusan bom dan rentetan suara mitraliur.

Atas kepentingan NICA, sebetulnya tentara sekutu (Inggris) terhasut untuk melawan rakyat Indonesia. Tentara sekutu terbuai karena sama-sama bangsa Barat dan bangsa penjajah. NICA mendalangi pertempuran, tentara sekutu berulangkali menyampaikan gencatan senjata saat terdesak tetapi dilanggar oleh tentara NICA. NICA terus menyebar provokasi mengadu rakyat Indonesia dengan tentara Inggris. Pertempuran sporadis terus terjadi di berbagai lokasi.

Dalam pertempuran tersebut, Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, Komandan Brigade 49 Divisi 23 tentara sekutu (Inggris) ditemukan mati tertembak. Peristiwa tersebut merusak perjanjian pengentian tembak-menembak yang telah disetujui oleh pemimpin Indonesia dan kaum Sekutu dalam Contact Commitee.

Pimpinan tentara Sekutu di Surabaya menjawab kematian Brigjen Mallaby dengan ultimatum yang terkenal pada 9 November 1945. Ultimatum tersebut menyebutkan: “Semua rakyat Indonesia yang bersenjata harus menyerahkan senjata di tempat-tempat yang ditunjuk oleh tentara sekutu, sambil mengangkat tangan dan didampingi bendera putih tanda menyerah kepada sekutu. Segalanya harus sudah diselesaikan pada 06.00 tanggal 10 November 1945.” (KH Saifuddin Zuhri, 2013: 337)

Rakyat Surabaya menganggap ultimatum Sekutu pada 9 November 1945 sebagai penghinaan terhadap rakyat, terhadap Republik Indonesia dan Proklamasi 17 Agustus 1945. Kiai Saifuddin Zuhri mencatat bahwa tentara Sekutu mengerahkan seluruh kekuatan mereka. Divisi 23 dan Divisi 5 yang berkekuatan sekitar 10.000 hingga 15.000 serdadu dibantu oleh meriam-meriam kapal perang penjelajah Sussex, beberapa kapal perusak dan pesawat-pesawat terbang Mosquito dan Thunderbolt dari RAF.
 
Rakyat Indonesia tidak gentar. Bagai air bah yang tidak dapat dibendung, rakyat Surabaya maju menyerbu semua kubu tentara Sekutu di seluruh kota. Tua dan muda serentak menerjang musuh meski hanya bersenjatakan bedil, pistol, pedang, dan bambu runcing. Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari memberikan kekuatan lahir dan batin bagi rakyat Indonesia untuk mengusir NICA dan tentara Sekutu. (Fathoni)