::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tawar-menawar Penduduk Tsaqif dengan Nabi Muhammad usai Masuk Islam

Ahad, 12 Mei 2019 21:00 Sirah Nabawiyah

Bagikan

Tawar-menawar Penduduk Tsaqif dengan Nabi Muhammad usai Masuk Islam
Nabi Muhammad saw dan beberapa sahabatnya hijrah ke Thaif, tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah. Mereka hendak meminta perlindungan dan pertolongan kepada masyarakat Thaif dari penindasan kaum musyrik Makkah. Namun, Nabi Muhammad saw. dan sahabatnya malah mendapatkan perlakuan buruk dari penduduk Thaif. Kaum Tsaqif –yang saat itu menjadi penguasa wilayah Thaif- melempari Nabi Muhammad saw. dengan batu hingga kakinya terluka.

Setelah beberapa tahun berlalu, umat Islam semakin kuat. Mereka berhasil mendirikan negara Madinah dan menghimpun kekuatan yang semakin hari semakin besar. Orang-orang Arab tidak memiliki kekuatan lagi untuk berperang melawan umat Islam. Semuanya sudah berbaiat dan memeluk Islam. Hanya tinggal beberapa suku saja yang belum menerima Islam. 

Rupanya keadaan ini membuat penduduk Tsaqif ‘ciut’. Tidak ingin mengalami sesuatu yang tidak diinginkan, akhirnya penduduk Tsaqif mengirim utusan yang dipimpin Kinanah bin Abdul Yalil untuk menemui Nabi Muhammad di Madinah. Kejadian itu berlangsung pada bulan Ramadhan, beberapa saat setelah Nabi Muhammad pulang dari Tabuk.  

Utusan Tsaqif tersebut membangun tenda-tenda. Mereka tinggal di Madinah beberapa hari agar bisa mengetahui aktifitas umat Islam sehari-harinya. Diceritakan Ibnu Sa’ad, Nabi Muhammad menemui utusan Tsaqif tersebut setiap malam setelah Shalat Isya. Nabi Muhammad dan mereka terlibat dialog yang cukup intens. Mereka bertanya tentang Islam, Nabi Muhammad memberikan penjelasan.

Diantara pertanyaan yang mereka lontarkan kepada Nabi Muhammad adalah "Bagaimana menurutmu tentang zina karena kami gemar berzina? Bagaimana menurutkmu tentang riba, seluruh harta kami berasal dari riba? Bagaimana pendapatmu tentang khamar, pendapatan kami dari khamar? Dan bagaimana dengan orang yang meninggalkan shalat?"

Nabi Muhammad menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan tegas. Singkatnya kata Nabi Muhammad, baik riba, zina, dan khamar itu adalah sesuatu yang diharamkan Allah. Larangan berbuat zina ada dalam QS al-Isra: 32. Sementara ayat yang mengharamkan praktik riba dan khamar tertera –berturut-turut- dalam QS Surat al-Baqarah: 278 dan al-Maidah: 90. 

“Tidak ada kebaikan dalam Islam tanpa shalat,” jawab Nabi Muhammad terkait pertanyaan orang yang meninggalkan shalat. 

Setelah mendengarkan dakwah dan penjelasan Nabi Muhammad tentang Islam, utusan Tsaqif tersebut akhirnya memeluk Islam. Kendati demikian, mereka mengajukan permintaan kepada Nabi Muhammad. Dikutip buku The Great Episodes of Muhammad saw (Said Ramadhan al-Buthy, 2017), mereka meminta agar Latta, berhala yang pernah disembah penduduk Tsaqif, tidak dihancurkan dalam kurun waktu tiga tahun ke depan.

Nabi Muhammad langsung menolak permintaan itu dengan tegas. Kemudian mereka memangkas waktunya menjadi dua tahun. Nabi juga Menolak. Tidak menyerah, mereka mengajukan lagi permohonan kepada Nabi Muhammad agar Latta tidak dihancurkan hingga sebulan lamanya terhitung sejak mereka tiba di Madinah. Lagi-lagi Nabi menolak. 

“Jika demikian, pergilan Anda untuk menghancurkannya. Kami tidak mau menghancurkannya,” kata utusan Tsaqif kepada Nabi Muhammad. Mereka akhirnya menyerah. Tidak lagi mengajukan permohonan agar Latta tidak dihancurkan.

Nabi Muhammad kemudian mengirimkan utusan yang dipimpin Khalid bin Walid ke Tsaqif untuk menghancurkan berhala Latta di Tsaqif. Diriwayatkan bahwa ketika Latta dihancurkan, kaum perempuan Tsaqif menangis.

Ada alasan tersendiri mengapa utusan Tsaqif meminta kepada Nabi Muhammad agar Latta tidak langsung dihancurkan, namun ditunda sebulan, dua tahun, dan tiga tahun sesuai permintaan mereka. Menurut Ibnu Ishaq, utusan Tsaqif khawatir dengan ancaman dari para pemimpin, istri, dan keturunan mereka nanti jika Latta langsung dihancurkan. Mereka juga tidak ingin mencerca kaumnya dengan menghancurkan berhala yang selama ini menjadi sesembahan. Sebaliknya, utusan Tsaqif tersebut ingin agar kaumnya sendiri lah yang nantinya menghancurkan Latta manakala Islam sudah masuk ke dalam hatinya yang paling dalam. 

Nabi Muhammad memiliki sikap terkait hal ini. Beliau tegas jika sudah menyangkut prinsip Islam. Terlebih, hal itu berkaitan dengan berhala yang selama ini disembah dan menjadi sekutu Allah, Tuhan sekalian alam. Beliau tidak akan memberikan toleransi sedikitpun terkait hal itu. (A Muchlishon Rochmat)