::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

KH Luqman Hakim Jelaskan Perumpaan Kehidupan Politik

Senin, 13 Mei 2019 11:30 Nasional

Bagikan

KH Luqman Hakim Jelaskan Perumpaan Kehidupan Politik
KH M. Luqman Hakim (istimewa)
Jakarta, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor, Jawa Barat KH M. Luqman Hakim menjelaskan perumpaan kehidupan politik seperti gedung besar, kapal Nabi Nuh, pohon indah, dan seperti tubuh.

Politik itu seperti gedung besar bersama dengan segala arsitek dan sipilnya. Tujuannya untuk melindungi para penghuninya, jangan para penghuni rebutan konsep, saling caci antar arsiteknya.

“Tanpa menyadari kita menghuni gedung bersama yang plural penghuni, politik gagal dengan sendirinya,” jelas Kiai Luqman dikutip NU Online, Senin (13/5) lewat twitternya.

Politik, menurutnya, juga seperti Kapal Nuh as, dibangun untuk penyelamatan bangsa, bahkan para binatang.

“Yang arogan dengan kehebatannya, hingga tidak mau masuk ke dalamnya, walau orang tercinta dan terdekat, mereka memang bukan keluarga keselamatan berbangsa. Seperti Kan'an yang inkonstitusional,” urai Direktur Sufi Center itu.

Politik itu seperti pohon indah (syajarah thayyibah), katanya, akarnya menghujam dengan pilar-pilar kebangsaan, pohonnya adalah tata negara yang bagus.

“Cabang-cabangnya menjulang di langit (karena melahirkan cabang peradaban luhur) demi mengabdi pada Tuhannya. Buah-buahnya adalah rakyat,” terang Pakar Tasawuf ini.

Politik, tandasnya, juga seperti tubuh. Presiden adalah hatinya, menteri adalah akalnya. Nafsu adalah tentara dan polisinya. Seluruh indera tangan dan kaki adalah aparatnya.

“Pikiran adalah kemajuannya. Perut, ekonominya. Kalau perut pada buncit ekonomi tidak merata, kesehatan tidak tertata,” tutur Kiai Luqman. (Fathoni)