::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Di Jerman, Ramadhan Mulai Semarak Seiring Islam Kian Mengakar

Kamis, 16 Mei 2019 01:00 Internasional

Bagikan

Di Jerman, Ramadhan Mulai Semarak Seiring Islam Kian Mengakar
Peta negara Jerman (halokawan.com)
Jakarta, NU Online
Ramadhan begitu semarak disambut oleh masyarakat di Jerman. Pasalnya kultur Islam mulai mengakar di negeri yang dipimpin Kanselir Angela Markel itu. Hal tersebut ditandai dengan berdirinya masjid-masjid di berbagai wilayah oleh Muslim asal berbagai negara, seperti Turki, Pakistan, Arab hingga Indonesia.

Iftar gratis juga diberikan di masjid-masjid selama sebulan penuh. Jadi, saya bisa hemat biaya makan selama Ramadhan,” kata Mochammad Mirza Ilham Tontowi, Ketua Pengurus Cabang Internasional Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PCI PMII) Jerman, kepada NU Online pada Rabu (15/5).

Mirza mengaku kerap berbuka di Masjid Indonesia, Indonesische Wisheit Und Kultur Zentrum, Perleberger Str. 61, 10559 Berlin, yang terletak 4,3 km dari Technische Universitat Berlin, kampus tempatnya berstudi. Meski antara waktu pulang dan berbuka cukup panjang, akan tetapi ia lebih memilih pulangnya selepas buka bersama.

“Karena masjid yang baru saya temui di Berlin masih di sekitar daerah barat, tanggung jadinya kalau pulang dulu. Biasanya saya buka di masjid Indonesia atau Arab,” ujarnya.

Baru selepas itu, ia pulang ke tempat tinggalnya yang terletak di Berlin bagian timur. Ia baru sampai ke sana sekitar pukul 11 sampai 12 malam.

Enam jam jarak antara terbenam matahari sampai terbit fajar membuat perencanaan kegiatan malam harus cukup matang. Baginya, jika rencana makan sahur dan bukanya beres akan memudahkan ibadah dan aktivitas lainnya. Mirza memilih buka sebagai sahurnya sekaligus.

“Untuk saya pribadi, saya memilih untuk berbuka dan sahur sekaligus, dengan begitu saya punya waktu tidur yang cukup,” kata mahasiswa bachelor bidang Engineering Physics itu.

Bangun sebelum waktu subuh, baginya, hanya untuk makan buah dan minum air yang cukup. Sebab, jika waktu tidurnya yang berkurang, hal tersebut justru membuat badan jauh lebih lemas dibanding dengan tidak berbuka atau tidak sahur sama sekali.

Mirza memilih untuk melaksanakan tarawih di rumah pada awal-awal Ramadhan seperti ini guna memanfaatkan istirahatnya yang cukup. Sebab, biasanya, katanya, tarawih bakal selesai tengah malam. Ia bertarawih di masjid pada akhir pekan saja. “Tarawih di masjid bisa berlangsung sampai tengah malam,” ujarnya.

Namun, menjelang akhir ia berencana banyak bertarawih di masjid. Pasalnya, tarawih akan lebih cepat selesai. Hal itu disebabkan adanya fatwa khusus di Eropa yang membolehkan menjamak waktu Maghrib dan Isya dari tanggal 18 Mei 2019 hingga pertengahan Agustus 2019.

“Tapi kalau sudah diperbolehkan menjamak Maghrib dan Isya, insyaallah akan istiqamah tarawih di masjid karena bisa pulang lebih awal,” pungkas pria asal Mojokerto, Jawa Timur itu. (Syakir NF/Abdullah Alawi)