::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kitab Tulisan Tangan Mbah Hasyim jadi Rujukan Akademisi

Rabu, 15 Mei 2019 23:30 Nasional

Bagikan

Kitab Tulisan Tangan Mbah Hasyim jadi Rujukan Akademisi
Salah satu kitab peninggalan Mbah Hasyim Asy'ari
Jombang, NU Online
Kitab-kitab tulisan tangan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratus Syech KH Hasyim Asy'ari yang tersimpan di Perpustakaan A Wahid Hasyim Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur menjadi rujukan para mahasiswa dan dosen dari berbagai kampus. 

Kedatangan para akademisi bertujuan melakukan penelitian, mencari data, atau mencocokkan data yang sudah dimiliki. Hampir tiap tahun ada saja akademisi mampir ke Tebuireng mencari kitab asli milik Kiai Hasyim

Pengurus perpustakaan A Wahid Hasyim, Muhamad Zainal Arifin menjelaskan, setiap waktu dirinya seringkali didatangi dan diminta melayani tamu dari luar daerah yang ingin menggunakan kitab tulisan tangan KH Hasyim Asy'ari sebagai sumber penelitian. 

"Jadi tidak hanya Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang datang ke sini memakai kitab-kitab Kiai Hasyim sebagai rujukan, melainkan anak-anak kuliah, dosen, ataupun praktisi juga sering datang ke sini," ujarnya, Selasa (14/5).

Misalnya, beberapa waktu lalu terdapat sejumlah mahasiswa asal Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Airlangga, maupun IAIN Ponorogo yang memakai kitab-kitab tersebut untuk kepentingan studi mereka.

"Rata-rata untuk kuliah dan penelitian jurnal mereka,'' terangnya.

Sayangnya, para pengunjung ataupun pembaca yang ingin menggunakan kitab-kitab asli tulisan tangan KH Hasyim Asy'ari tidak diperkenan untuk dipinjamkan keluar dari perpustakaan. Karena, keberadaan tujuh kitab berusia satu abad itu hanya ada satu-satunya di Indonesia. "Kita tidak memimjamkan, ya mohon maaf karena memang tinggal ini satu-satunya," bebernya.

Hal ini dikarenakan pihaknya khawatir, semisal ada peminjam yang tidak bertanggungjawab kitab tersebut bakal rusak ataupun hilang. "Karena ini peninggalan sejarah tentu akan kami jaga betul," tandasnya. Bahkan, beberapa waktu lalu saat tim PBNU meminjam untuk kepentingan pameran juga tidak diizinkan, dengan alasan keamanan naskah asli tersebut.

Namun, ia menjelaskan pembaca masih bisa menggandakan dengan memotocopy beberapa lembar yang digunakan sebagai rujukan. "Kalau difoto copy tidak apa-apa, asal tidak dibawa pulang ataupun dipimjam," pungkasnya. (Syarif Abdurrahman/Muiz)