::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Homo Sampahnicus Sadar akan Lingkungan

Kamis, 16 Mei 2019 03:30 Nasional

Bagikan

Homo Sampahnicus Sadar akan Lingkungan
Ilustrasi: waste360.com
Jakarta, NU Online
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memperkirakan akan ada 69 juta ton sampah plastik di tahun 2019 ini. Hal tersebut bukanlah angka kecil.Banyaknya sampah plastik dari tangan-tangan manusia ini memberikan definisi lain terhadap makhluk yang paling sempurna diciptakan oleh Tuhan ini.

"Manusia juga homo sampahnicus, binatang yang paling sering buang sampah," kata Dwi Winarno, dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta, saat menjadi narasumber pada diskusi bertema Pantang Plastik di Bulan Puasa di Unusia, Jalan Taman Amir Hamzah, Jakarta, Rabu (15/5).

Membincangkan plastik dan manusia tentu tidak bisa hanya keduanya saja yang dibicarakan. Manusia saat ini telah menyadari ada hal lain yang juga turut dipertimbangkan, yakni alam lingkungan.

"Kalau hari ini bicara soal plastik maka ruang kajiannya bukan saja manusia dan plastik, tetapi bagaimana alam bereaksi atas penggunaan plastik,"  ucapnya.

Pembahasan itu, katanya, tentu harus melihat dampak yang diakibatkan darinya terhadap pulau, air, laut, ikan, hingga banjir, dan lain-lain. "Manusia harus melihat lingkungan bereaksi terhadap dirinya," ujarnya.

Sebab, lanjutnya, kalau tidak, persoalan tersebut akan menimbulkan gangguan terhadap dirinya. Bukan hanya menimbulkan penyakit, bencana, tetapi menyangkut pada perubahan dirinya sendiri.

Pada dasarnya, menurutnya, persoalan itu bagaimana budaya manusia harus membatasi peredaran plastik. Sebab, jika benar-benar menghapusnya mustahil. Ia mencontohkan pelarangan penggunaan kantong plastik di toko retail sebagaimana Bali. Hal tersebut, mestinya juga dilakukan di kota-kota lainnya.

Di samping itu, penyadaran itu juga dapat dilakukan melalui penanaman pengetahuan yang diberikan secara terus menerus. "Bukan hanya kurikulum, tetapi kesadaran yang dibangun terus menerus di sekolah, di kampus, keluarga," kata pengajar sosiologi itu.

Dunia yang terus mengalami perubahan ini, katanya, kalau tidak disikapi membuat keberlangsungan manusia dan seluruh makhluk di alam akan menjadi terancam. "Dan yang paling penting adalah keberadaan manusia," pungkas Dwi.

Selain Dwi, diskusi ini juga menghadirkan Direktur Bank Sampah Nusantara LPBI PBNU Fitria Ariyani dan Juru Kampanye Urban Greenpeace Indonesia Muharram Atha Riyadi. (Syakir NF/Abdullah Alawi)