::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pusat Kajian Beralih dari Manusia ke Alam

Kamis, 16 Mei 2019 05:00 Nasional

Bagikan

Pusat Kajian Beralih dari Manusia ke Alam
Ilustrasi: Kompas
Jakarta, NU Online
Zaman senantiasa mengalami perubahan. Pun dengan manusia sebagai bagian di dalamnya. Saat dulu berpandangan semuanya berpusat pada dirinya, antroposentris, perlahan hal tersebut berubah menjadi ekosentris, berpusat pada lingkungan.

"Kita sekarang memasuki ekosentrisme, alam sebagai pusat kajian," kata Dwi Winarno, dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta, saat menjadi narasumber pada diskusi bertema Pantang Plastik di Bulan Puasa di Unusia, Jalan Taman Amir Hamzah, Jakarta, Rabu (15/5).

Hal tersebut diawali dengan kesadaran manusia akan dampak negatif dari perubahan yang dilakukannya sendiri melalui revolusi industri yang terus bergerak. "Lama kelamaan inovasi manusia merusak dirinya sendiri," ujarnya.

Melihat kerusakan itu, manusia terus mengubah pola pikir mereka sehingga menemukan alam sebagai titik pusat yang perlu dipertimbangkan. Perubahan itu terus mengalami penyesuaian, baik dari manusia sendiri, maupun alamnya.

"Manusia sudah mulai memperbaiki alam yang sedang sakit, dan alam sedang memperbaiki manusia yang sedang sakit," ucap Dwi.

Meskipun demikian, ia menekankan perlunya upaya penyadaran yang dilakukan terus-menerus kepada berbagai pihak di berbagai tempat akan pentingnya memerhatikan alam sebagai bagian dari lingkungan yang tentunya akan berdampak pada dirinya sendiri.

"Bukan hanya kurikulum, tetapi kesadaran yang dibangun terus menerus di sekolah, di kampus, keluarga," pungkas pengajar sosiologi itu.

Selain Dwi, diskusi ini juga menghadirkan Direktur Bank Sampah Nusantara LPBI PBNU Fitria Ariyani dan Juru Kampanye Urban Greenpeace Indonesia Muharram Atha Riyadi. (Syakir NF)